Pakar dan Pemerintah Antisipasi Risiko Penularan Hantavirus di Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan pakar kesehatan Universitas Gadjah Mada meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penularan hantavirus yang dibawa oleh rodensia seperti tikus pada Mei 2026. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan klaster infeksi di kapal pesiar MV Hondius serta temuan kasus di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Solo. Namun, pemantauan tetap diperketat untuk mengantisipasi potensi penyebaran dari hewan pembawa virus ke lingkungan penduduk.

Pakar dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr. Riris Andono Ahmad, menjelaskan bahwa kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius dipicu oleh strain Andes virus. Jenis ini diketahui memiliki karakteristik khusus dibandingkan strain lainnya dalam hal pola penularan.

"Perlu dipahami bahwa kejadian global saat ini bukan awal pandemi baru dan risiko penyebaran luasnya masih rendah," jelas sosok yang akrab disapa Donnie tersebut.

Meski risiko pandemi dinilai rendah, Donnie mengingatkan bahwa masyarakat harus tetap waspada. Hal ini dikarenakan reservoir atau hewan pembawa virus berupa tikus dan mencit tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia.

Kewaspadaan juga ditekankan oleh dr. Alindina Anjani terkait kemiripan gejala penyakit ini dengan infeksi umum lainnya. Ia menyebutkan gejala awal meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan badan terasa lemas.

"Karena gejalanya mirip dengan banyak penyakit infeksi lain, riwayat paparan lingkungan dan keberadaan rodensia seperti tikus dan mencit, menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses diagnosis," jelas Alindina.

Pakar menekankan bahwa hingga kini belum tersedia terapi spesifik untuk mengobati hantavirus sehingga penanganan hanya bersifat suportif. Masyarakat disarankan menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area lembap atau jarang digunakan seperti loteng dan gudang guna menghindari kontak dengan kotoran tikus.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed