Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 633 Orang dan Ribuan Hilang
Banjir bandang dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8), menewaskan sedikitnya 633 orang dan membuat hampir 3.000 lainnya hilang, menurut data terbaru dari otoritas kedua negara.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya yang menyebabkan aliran deras berupa air, es, batu, dan lumpur menyapu sejauh 20 kilometer ke hilir. Banjir ini terjadi dalam waktu singkat, hanya sekitar 10 menit, sehingga memicu kerusakan besar.
Menurut Otoritas Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal, korban tewas di Nepal mencapai 626 orang dan jumlah orang hilang mencapai 2.426 jiwa. Sedangkan di Tibet, China, dilaporkan 7 orang tewas dan 554 orang hilang, sehingga total korban hilang di kedua wilayah mencapai 2.980 orang.
Otoritas Nepal menyatakan bahwa korban hilang termasuk 517 warga negara asing serta 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air di sungai-sungai terdampak.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengeluarkan peringatan terkait risiko banjir susulan akibat danau yang terbentuk dari tumpukan puing dan tanah longsor di perbatasan Nepal-Tibet. Peringatan menyebutkan bahwa permukaan air di danau tersebut terus naik dan berpotensi jebol dalam waktu dekat.
"Warga di bantaran yang lebih rendah... para penumpang, petugas penyelamat yang terlibat dalam operasi penyelamatan, dan semua pihak terkait diminta untuk sangat berhati-hati dan tetap berada di tempat yang aman, jauh dari bantaran sungai dan area-area yang berisiko," ujar otoritas Nepal.
Media pemerintah China melalui CCTV memperingatkan bahwa danau yang terbentuk akibat tanah longsor di wilayah perbatasan menghadapi risiko tinggi jebol dan mengalirkan air bah ke hilir. Ketinggian air diperkirakan meningkat selama tiga hari ke depan dan mencapai puncaknya sekitar 1 September, diperparah oleh prakiraan hujan deras.
"Volume air yang masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik dalam tiga hari ke depan, di tengah hujan deras yang terus mengguyur, yang meningkatkan risiko jebolnya danau yang dapat mengalirkan air bah ke hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut," kata laporan kantor berita Xinhua.
Tim penyelamat di Tibet, China, telah mencapai lokasi utama terdampak tanah longsor. Mereka termasuk enam anggota Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tibet serta 15 anggota tim dari Sichuan dengan anjing pelacak, yang tiba pada 28 Agustus.
David Fisher, kepala delegasi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk Nepal, menyatakan, "Akibat rusaknya jalan dan jembatan serta terputusnya jaringan seluler dan aliran listrik, kami belum dapat menjangkau beberapa wilayah yang paling parah terdampak." Ia menyebut trauma akibat peristiwa ini sangat luar biasa.
Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi berbagai kendala, termasuk cuaca buruk dan risiko banjir susulan akibat danau lumpur yang terbentuk dari material es dan lumpur. Otoritas Nepal meminta seluruh tim penyelamat untuk mengutamakan keselamatan dengan berpindah ke lokasi aman.
Pemerintah Nepal awalnya menolak bantuan asing, namun kemudian membatalkan keputusan tersebut setelah mendapat tekanan dari komunitas internasional. Para ahli asing kini membantu tim penyelamat dalam identifikasi jenazah agar dapat segera diserahkan kepada keluarga.
Banjir bandang ini menegaskan perlunya sistem peringatan dini yang lebih efektif dan perencanaan pemukiman yang lebih aman di daerah rawan bencana di Nepal dan Tibet, terutama mengingat frekuensi kejadian serupa yang terus meningkat akibat perubahan iklim.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow