Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Melalui Bauran Kebijakan Moneter
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempertahankan suku bunga acuan dan memperkuat bauran kebijakan moneter pada Minggu (12/7/2026) demi menghadapi volatilitas serta menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah stabilisasi ini diambil menyusul pergerakan mata uang Paman Sam yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (6/7/2026) akibat sinyal kebijakan hawkish dari bank sentral AS.
Sebagai bagian dari strategi, Bank Indonesia (BI) akan meningkatkan remunerasi atau bunga atas dana pemerintah yang ditempatkan di bank sentral menjadi di atas BI Rate guna mengompensasi kenaikan beban bunga pemerintah dari imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Kebijakan moneter ini didukung oleh penguatan koordinasi fiskal antara pemerintah, DPR RI, BI, dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) guna memitigasi risiko eksternal seperti lonjakan harga minyak dunia yang mulai memengaruhi inflasi domestik.
Hingga 26 Juni 2026, arus modal asing masuk ke instrumen SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar USD9 miliar year to date, yang disertai ekspansi likuiditas operasi moneter hingga Rp1.000 triliun.
Di sisi lain, ruang APBN tetap terjaga sehat dengan defisit hingga Mei 2026 sebesar 0,7 persen PDB, serta perpanjangan penempatan dana pemerintah sebesar Rp281 triliun di perbankan hingga Desember 2026.
“Hari ini kami mengadakan rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini,” ujar Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI.
Koordinasi antarlembaga ini ditujukan agar otoritas terkait mampu merespons perkembangan dinamika ekonomi global secara cepat, terukur, dan tepat sasaran.
“Yang paling penting adalah menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek karena dampak ketidakpastian global sudah mulai terasa terhadap inflasi dan daya beli masyarakat,” kata Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua DEN.
Sementara itu, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dipicu oleh keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mempertahankan suku bunga federal funds di level 3,5% hingga 3,75% pada pertengahan Juni lalu.
“Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik,” ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Untuk mengantisipasi lonjakan indeks dolar AS yang sempat menembus level tertinggi dalam satu tahun terakhir, BI memastikan kehadirannya di pasar keuangan domestik maupun internasional selama 24 jam penuh.
“(Dalam) 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan bahkan akhir tahun itu kan perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh sebab itu yang saya sampaikan tadi bahwa Bank Indonesia All Out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa Rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat Rupiah itu membangun,” tambah Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Intervensi tersebut terus dijalankan secara konsisten melalui berbagai instrumen moneter mulai dari transaksi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow