Bank of Korea Naikkan Suku Bunga Acuan 3 Persen

Smallest Font
Largest Font

Bank of Korea resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,00 persen pada Agustus 2026. Langkah pengetatan kebijakan moneter berturut-turut ini diambil untuk menekan laju inflasi yang berada di atas target serta menopang lonjakan nilai tukar won terhadap dolar AS.

Keputusan tersebut mengerek suku bunga acuan Negara Ginseng ke level tertinggi sejak Januari 2025 sekaligus mempersempit selisih suku bunga dengan Amerika Serikat menjadi 0,75 poin persentase. Kebijakan moneter yang ketat ini diambil Bank of Korea di tengah ketidakpastian stabilitas keuangan dan lonjakan harga energi global akibat dinamika geopolitik Timur Tengah.

Penguatan mata uang lokal melaju pesat seiring dengan kinerja perdagangan luar negeri yang solid. Nilai tukar won bergerak di kisaran 1.374 per dolar AS dengan kenaikan sekitar 5 persen sepanjang Agustus 2026, ditopang oleh surplus perdagangan yang diproyeksikan melampaui 30 miliar dolar AS.

Sektor teknologi menjadi penopang utama peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Lonjakan pengiriman semikonduktor yang tumbuh lebih dari 60 persen secara tahunan mendorong kenaikan laba bersih Samsung Electronics dan SK Hynix, yang juga mengerek indeks saham Kospi menembus rekor di atas 9.000 poin.

Bank sentral menegaskan komitmennya untuk mengamankan kondisi perekonomian domestik dari gejolak harga.

"Dalam konteks ini, sangat penting untuk mencegah meluasnya tekanan inflasi melalui tindakan preventif," ujar Bank of Korea dalam pernyataan resmi.

Analis dari ING Chris Turner menyampaikan bahwa ekspektasi dot plot menargetkan suku bunga acuan berpotensi menyentuh 3,25 persen dalam enam bulan mendatang. Penyesuaian tersebut diiringi revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tahun 2026 menjadi 3,3 persen berkat kombinasi booming ekspor chip dan pemulihan konsumsi domestik.

Meski kinerja ekspor menopang pertumbuhan, otoritas moneter mewaspadai potensi pergerakan nilai tukar KRW/JPY yang mendekati level tertinggi 2023/2024 serta ketegangan baru antara AS dan Iran yang berisiko memicu kenaikan harga minyak dunia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed