Benjamin Netanyahu Disoraki Perwira Militer Israel Saat Berpidato

Smallest Font
Largest Font

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disoraki dan didesak mundur dari jabatannya oleh para perwira militer saat berpidato di pangkalan militer Bahad 1, Israel selatan, pada Kamis (25/6). Insiden memalukan tersebut terjadi di tengah gelombang protes masyarakat yang meluas di berbagai kota besar Israel.

Dilansir dari harian Yedioth Ahronoth melalui Anadolu Agency, sorakan itu bergaung dalam upacara kelulusan perwira tempur saat Netanyahu mengeklaim Israel berhasil mengubah aturan main di kawasan regional. Para demonstran menuntut diadakannya pemilihan umum dini karena menilai pemerintah gagal mengatasi dampak perang di Jalur Gaza sejak serangan 7 Oktober 2023.

Krisis internal ini diperparah oleh keretakan hubungan diplomatik antara Tel Aviv dan Washington pasca-perdebatan mengenai isu Iran. Berdasarkan laporan Channel 12, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai bahwa kabinet Netanyahu saat ini diisi oleh unsur-unsur yang terlampau radikal.

"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan tentang kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilihan umum (pemilu) Israel," tulis media Channel 12 yang dikutip Anadolu Agency.

Penurunan kepercayaan publik ini sejalan dengan hasil jajak pendapat terbaru dari Hebrew University of Jerusalem dan Agam Institute yang dirilis pada Minggu (21/6). Survei terhadap 3.644 responden warga Israel menunjukkan bahwa 92,1 persen menganggap Iran memenangkan perang atau meraih keuntungan lebih besar di Timur Tengah.

Jajak pendapat tersebut juga mengungkap bahwa sebanyak 72,5 persen warga Israel sudah tidak memercayai klaim Netanyahu mengenai keberhasilan operasi militer mereka. Akibatnya, tingkat dukungan terhadap kepemimpinan perdana menteri tersebut merosot tajam dari 40,5 persen pada Maret lalu menjadi tinggal 29,4 persen pada bulan Juni.

Kritik tajam turut disampaikan oleh kolumnis senior Yedioth Ahronoth, Nadav Eyal, yang menyebut slogan kemenangan mutlak pemerintah sebagai sebuah ilusi destruktif. Melalui ulasannya, Eyal menegaskan bahwa doktrin militer Israel kini terseret ke dalam lingkaran balas dendam tanpa adanya visi politik jangka panjang yang jelas.

Senada dengan hal itu, analis regional Arab Abdel Bari Atwan menyatakan bahwa pengakuan dari universitas Israel tersebut membuktikan kegagalan total dari strategi militer Netanyahu. Melalui laporan Kantor Berita Mehr, Atwan menambahkan bahwa situasi ini menjadi bukti nyata runtuhnya superioritas politik dan intelijen yang selama ini dipromosikan oleh pemerintah Israel.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed