Marco Bezzecchi menangis usai merebut podium sprint di Silverstone
Marco Bezzecchi mengakhiri sprint MotoGP Inggris di Silverstone dengan finis ketiga dan mengaku sulit menahan emosi setelah duel sejak awal. Start dari P5, pebalap Aprilia itu menyalip beberapa rival, termasuk Fabio Di Giannantonio, sebelum menahan Alex Marquez di finis. Ia juga membawa Aprilia menyapu podium 1-2-3.
Bezzecchi start dari peringkat 5 dan bergerak agresif hingga merebut posisi 4 tepat di depan Marc Marquez. Persaingan di putaran berikutnya berujung duel ketat antara dua pebalap tersebut hingga sempat terjadi insiden bersenggolan.
Marc Marquez kemudian tidak mampu membalas setelah mengalami masalah pada cengkereman ban, sementara Bezzecchi menyerang pada lap ke-5. Pada lap ke-7, Bezzecchi menyalip Fabio Di Giannantonio dan mengunci posisi ketiga sampai garis finis.
Bezzecchi finis 3,974 detik di belakang pemenang Jorge Martin. Ia juga tertinggal 2,4 detik dari Ai Ogura yang finis di posisi kedua.
Podium tersebut menjadi podium pertama Bezzecchi sejak podium terakhirnya di sprint race Balaton Park pada Juni lalu. Ia datang ke Silverstone dengan kondisi fisik jauh dari ideal setelah operasi tulang selangka dan masalah pada lutut yang dialami menjelang jeda musim panas.
CEO Aprilia Massimo Rivola menyoroti bahwa Bezzecchi bahkan kesulitan berjalan sebelum akhirnya finis ketiga di Silverstone.
"Saat Anda melihat seorang pembalap yang bahkan kesulitan berjalan di pagi hari namun mampu menjalani balapan seperti itu, Anda bisa membayangkan betapa besarnya semangat juangnya." kata Massimo Rivola, CEO Aprilia.
Rivola juga menggambarkan Bezzecchi sebagai pembalap istimewa, sambil membandingkan sikap berani yang ia lihat dari pembalap lain pada musim sebelumnya.
"Jadi, kita harus menyadari bahwa kami berurusan dengan sosok yang istimewa—tahun lalu Jorge, tahun ini Marco." kata Massimo Rivola, CEO Aprilia.
Dalam penjelasan lain, Bezzecchi mengungkap kesulitannya menghadapi kritik dan keraguan, tetapi start bagus di sprint memberi peluang bertarung hingga podium.
"Memang berat," ujar Bezzecchi.
Ia menambahkan bahwa memakai helm terasa seperti memasang penyumbat telinga, sehingga ia dapat merasakan fokus di tengah beban pikiran.
"Namun pada akhirnya, saat kami mengenakan helm, rasanya seperti memasang penyumbat telinga. Jadi, rasanya sungguh luar biasa indah." ujar Bezzecchi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow