BI Catat Transaksi QRIS Antarnegara Tembus Rp1,52 Triliun di Triwulan II
Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS antarnegara secara net inbound menembus Rp1,52 triliun pada kuartal II 2026. Capaian ini menjadi bagian dari lonjakan volume transaksi pembayaran digital nasional yang mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan.
Pertumbuhan transaksi pembayaran digital didukung perluasan akseptasi masyarakat, termasuk penggunaan aplikasi internet dan seluler. Di saat bersamaan, infrastruktur pembayaran BI-FAST memproses 1,529 juta transaksi senilai Rp3.777 triliun, sementara transaksi bernilai besar BI-RTGS mencapai Rp53.492 triliun dari 2,63 juta transaksi. Adapun Uang Kartal Yang Diedarkan meningkat 14,03 persen menjadi Rp1.315 triliun.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengonfirmasi kinerja positif tersebut dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 22 Juli 2026.
"Volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II/2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Perry menambahkan bahwa stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga melalui infrastruktur yang lancar serta struktur industri yang sehat. Bank Indonesia berkomitmen memperkuat keandalan infrastruktur dan memastikan ketersediaan uang rupiah di seluruh wilayah Indonesia.
"Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 14,03 persen (yoy) menjadi Rp1.315 triliun pada triwulan II/2026," ucapnya.
Kinerja QRIS secara keseluruhan tumbuh hingga 100,12 persen secara tahunan pada periode yang sama. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan jumlah pengguna dan merchant, termasuk perluasan integrasi antarnegara yang kini menjangkau Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China, hingga Korea Selatan.
Dalam rincian kinerjanya, nilai transaksi masuk atau inbound QRIS antarnegara menyumbang angka terbesar dari total nominal yang dicatatkan Bank Indonesia.
"Kalau kita lihat di triwulan II 2026 ini transaksi QRIS antarnegara secara net inbound nominalnya sebesar Rp 1,52 triliun. Ini berasal dari nominal transaksi inbound sebesar Rp 1,85 triliun dan outbound sekitar Rp 330 miliar," ujar Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta.
BI terus berupaya menjajaki perluasan konektivitas QR lintas batas ke negara lain seperti Arab Saudi, India, dan Hong Kong. Namun, pelaksanaannya memerlukan kesiapan terintegrasi dari tiap negara mitra.
"Namun, implementasinya kita harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, tentunya kesiapan regulasi, infrastruktur, industri dan juga koordinasi dengan otoritasnya," tutur Filianingsih Hendarta.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai transaksi QRIS lintas batas mengalami lonjakan 380 persen secara tahunan menjadi Rp2,71 triliun dengan volume 2,06 juta transaksi. Sebagian besar nilai transaksi tersebut berasal dari wisatawan mancanegara yang berbelanja di Indonesia, dengan porsi terbesar berasal dari pengguna asal Malaysia sebesar 58 persen dan wisatawan China sebesar 39 persen.
Analis Redseer Strategy Consultants Roshan Raj Behera menilai Indonesia sebagai salah satu pemain paling agresif di kawasan ASEAN dalam pengembangan pembayaran QR lintas batas karena keunggulan sistem interoperabilitas nasionalnya.
"Indonesia menonjol karena kecepatan ekspansi QRIS," kata Analis Redseer Strategy Consultants Roshan Raj Behera seperti dikutip dari TheBusinessTimes.
Di tingkat industri, penyedia layanan digital dan perbankan seperti DANA serta Bank Rakyat Indonesia melalui aplikasi BRImo turut mengintegrasikan fitur pembayaran lintas batas ini. Langkah ini dinilai membantu efisiensi biaya konversi mata uang serta mendukung pertumbuhan transaksi UMKM tanpa memerlukan mesin EDC tambahan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow