BMKG Memprediksi Kemarau di Gorontalo Berlangsung Delapan Bulan

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Provinsi Gorontalo akan menghadapi musim kemarau panjang hingga delapan bulan akibat perpaduan musim kering dan fenomena global pada Juli 2026.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru dari BMKG, monitoring pada Dasarian III Juni 2026 menunjukkan nilai indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) bulanan di wilayah Nino3.4 serta indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat sebesar -0.367 (-0.387), yang memperkuat adanya fluktuasi cuaca.

"Musim kemarau itu biasanya kita tentukan kalau misalnya dalam 10 hari curah hujannya tidak mencapai 50 mm," ujar Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo dilansir dari Dulohupa.id.

Ketetapan ini merujuk pada pemantauan jumlah curah hujan berkala yang dihitung per dasarian atau periode sepuluh hari.

"Jadi kalau misalnya dalam 10 harian ada hujan tapi kurang dari 50 mm dan diikuti oleh 2 dasarian berikutnya berturut-turut, maka kami menetapkan bahwa itu masuk musim kemarau karena curah hujannya kurang dari 50 mm," lanjut Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Ia menjelaskan bahwa dampak musim kemarau di wilayah Gorontalo mengalami pergeseran menjadi datang lebih awal akibat interaksi dengan iklim global.

"Antara musim kemarau ditambah dengan fenomena El Niño, makanya awal musim kemarau itu maju di Gorontalo sekitar satu dasarian rata-ratanya," ungkap Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Pergeseran awal musim ini kemudian memicu perpanjangan durasi masa kering yang bervariasi di berbagai daerah.

"Dan juga nanti imbasnya dengan panjang musim kemarau itu sendiri. Dari kami prediksinya itu sekitar 11 sampai 25 dasarian," ucap Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Melalui proyeksi tersebut, stasiun klimatologi setempat memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami durasi kemarau paling ekstrem.

"Itu yang paling panjang musim kemaraunya, kami prediksi di sebagian kecil Boalemo dan bagian selatan yaitu Tilamuta dan Dulupi," sambung Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Sebaliknya, institusi ini juga mendata area yang diperkirakan akan melewati masa kemarau dengan jangka waktu yang jauh lebih pendek.

"Terus yang paling pendek yaitu di Suwawa bagian tengah, sebagian kecil Boalemo bagian barat laut, sebagian Bone Bolango bagian barat daya, sebagian kecil Boalemo, sebagian Gorontalo bagian selatan, seluruh Kota Gorontalo dan sebagian Pohuwato bagian selatan. Itu antara yang paling panjang dan paling pendek," pungkas Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Secara khusus, wilayah dengan durasi kemarau terpanjang diproyeksikan akan terus bertahan menghadapi kondisi kering ini hingga melewati pergantian tahun.

"Dan yang paling panjang itu di daerah Tilamuta dan Dulupi itu sekitar 25 dasarian, sekitar 8 bulanan. Dan nanti prediksi kami bahwa daerah situ sampai awal tahun masih musim kemarau," tutup Merpati Teodoris Nalle, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed