BMKG Memprediksi Musim Kemarau 2026 Berlangsung Lebih Panjang dan Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan durasi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama dengan karakteristik yang jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh institusi terkait untuk mendorong kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta seluruh lapisan masyarakat agar segera menyiapkan langkah mitigasi di berbagai sektor terdampak. Peringatan ini mencakup kesiapsiagaan terhadap potensi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada wilayah-wilayah yang mengalami masa kering paling ekstrem.
"Dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia, BMKG memberikan rekomendasi kepada kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat," kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG saat dihubungi kumparan pada Minggu (19/7).
Guna menjaga ketahanan pangan, sektor pertanian disarankan untuk mengubah jadwal tanam serta beralih ke varietas komoditas yang minim konsumsi air, memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca panas, dan berorientasi pada masa panen pendek. Sementara pada pengelolaan sumber daya air, langkah revitalisasi waduk dan perbaikan jalur distribusi air bersih perlu dikebut oleh pemerintah demi menjamin pasokan domestik warga tetap terpenuhi.
BMKG juga menyoroti pentingnya menjaga kapasitas volume air di bendungan agar tidak mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Di sisi lain, pemerintah daerah diminta mengantisipasi penurunan kualitas udara yang rentan memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Meskipun memicu risiko kekeringan, periode ini dinilai dapat memberikan dampak positif bagi sektor perikanan melalui fenomena upwelling yang mampu menaikkan volume tangkapan ikan. Cuaca yang minim curah hujan tersebut juga dapat dioptimalkan para petambak untuk memacu produktivitas komoditas garam.
Untuk mengantisipasi kesimpangsiuran informasi, pihak BMKG menyarankan agar masyarakat yang membutuhkan detail data iklim tingkat daerah dapat mendatangi kantor perwakilan BMKG setempat secara langsung.
"BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa merujuk pada saluran resmi BMKG dalam memperoleh informasi terkait cuaca, iklim, dan gempa bumi, sehingga terhindar dari informasi yang tidak terverifikasi dan berpotensi menimbulkan keresahan maupun kepanikan di masyarakat," ujar Ardhasena.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow