BMKG Sebut Indonesia Mulai Memasuki Fase Kekeringan Hidrologis
Wilayah Indonesia dilaporkan mulai bergerak menuju fase kekeringan hidrologis seiring berlanjutnya musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino pada Rabu (29/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mengenali tahapan fenomena ini untuk mengantisipasi dampak yang meluas.
Perkembangan kekeringan dijelaskan tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui empat tahap bertahap mulai dari tingkat meteorologis, pertanian, hidrologis, hingga sosioekonomis. Pemahaman tahapan tersebut dinilai krusial agar mitigasi dampak dapat dilakukan lebih awal oleh masyarakat maupun pemerintah.
Penjelasan mengenai alur perkembangan dampak kemarau tersebut disampaikan oleh pejabat otoritas meteorologi nasional.
"Perlu diketahui, kemarau itu memiliki beberapa tingkatan kekeringan, mulai dari kekeringan meteorologis, kekeringan pertanian, nanti akan berlanjut kekeringan hidrologis hingga terakhir adalah kekeringan sosioekonomis," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto.
Fase awal ditandai dengan kekeringan meteorologis, yakni kondisi penurunan curah hujan di bawah rerata normal dalam satu periode musim tertentu. Wilayah Indonesia telah melewati fase pertama ini pada rentang bulan April hingga Juni 2026.
"Nah, kalau pada saat kita berbicara di awal-awal April, Mei, Juni, itu masih kita sampaikan kekeringan meteorologis di mana tingkat curah hujannya di bawah normal dalam satu periode musim," ujar Guswanto.
Kondisi kemudian berlanjut ke tahap kekeringan pertanian saat lengas tanah berkurang sehingga tidak mampu menyokong kebutuhan air bagi tanaman secara optimal.
"Kekeringan pertanian itu terjadi ketika kandungan air di dalam tanah sudah tidak cukup lagi mendukung pertumbuhan tanaman. Misalnya tanaman akan layu atau stres air hingga mengalami gagal panen," jelas Guswanto.
Saat ini kondisi iklim di tanah air diidentifikasi mulai mengarah pada fase penurunan pasokan air permukaan, seperti di sungai dan waduk.
"Kalau kita lihat saat ini itu bergerak dari kekeringan pertanian menuju kekeringan hidrologis. Ini berkaitan dengan pasokan air pada sumber-sumber air permukaan, misalkan tinggi muka air mulai turun. Nah, ini yang perlu kita antisipasi," katanya.
Apabila kemarau terus berlanjut tanpa penanganan, situasi dapat memuncak pada kekeringan sosioekonomis yang mengganggu kegiatan ekonomi dan pasokan air harian warga. BMKG menyarankan efisiensi penggunaan air serta penyesuaian jadwal tanam bagi para petani guna meminimalkan kerugian.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow