DIY Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan Akibat Kemarau Panjang
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan status siaga darurat kekeringan di tingkat provinsi pada Selasa (8/9/2026) akibat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino kuat. Langkah ini diambil setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat seluruh wilayah DIY masuk status Awas Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis dengan durasi hari tanpa hujan melebihi 60 hari.
Ancaman krisis air bersih kini meluas di beberapa kawasan rawan, meliputi Kabupaten Gunungkidul, Kepanewon Bokoharjo di Sleman, wilayah perbukitan karst Gunung Sewu di Bantul, hingga kawasan Perbukitan Menoreh. Kondisi ini memperparah ancaman kekeringan hidrologis dan penurunan ketersediaan air bersih bagi warga setempat.
Pemerintah Provinsi DIY bersama BPBD kabupaten dan instansi terkait mulai menyiagakan posko darurat serta mendistribusikan bantuan air bersih ke daerah terdampak. Bantuan tersebut disalurkan melalui kerja sama dengan Keraton Yogyakarta dan Polda DIY untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Kami siap untuk melakukan dropping air bersih sampai dengan akhir September 2026 nanti. Semoga hal ini bisa membantu para warga yang kesehariannya sulit mendapat air bersih, ujar Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan instruksi khusus agar seluruh jajaran memastikan penanganan krisis air tidak berjalan setengah-setengah. Sinergi lintas sektoral pun diperkuat untuk menjangkau seluruh pemukiman warga yang mengalami kesulitan air.
Beliau menginginkan supaya tidak adanya kesulitan air bersih di DIY, tegas Kepala Dinas PMKDukcapil DIY KPH Yudanegara.
Sinergi ini juga diwujudkan melalui pengujian dan pengerahan lima unit mesin penyulingan air canggih milik Polda DIY di lokasi kekeringan. Peralatan portabel tersebut dirancang untuk mengolah air keruh, payau, maupun air laut menjadi pasokan siap pakai.
Alat ini bisa mengubah air yang tidak layak dikonsumsi menjadi air yang layak dikonsumsi. Selain itu, kami juga memiliki alat untuk mengecek pH dan TDS air untuk membuktikan air yang dihasilkan memang benar-benar higienis, jelas Kepala Tim Instruktur Alutsista Polda DIY Ipda Kasworo.
Mesin penapis tersebut mampu memproduksi hingga 1.000 liter air kotor per jam, dengan pembagian 40 persen air siap minum dan 60 persen sisanya dialokasikan untuk Sanitasi Mandi, Cuci, Kakus. Selain penanganan jangka pendek, Pemprov DIY dan BMKG sedang merancang pemetaan sumber air baru untuk pembuatan sumur bor.
Kondisi kemarau ekstrem tahun ini dikonfirmasi oleh BMKG sebagai dampak dari fenomena El Nino yang berada pada kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Di skala nasional, sebanyak 81,1 persen dari 567 zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak akhir Agustus 2026, dengan Provinsi Jawa Tengah mencatatkan hari tanpa hujan terlama mencapai 122 hari.
Durasi terlama (kemarau) itu adalah Provinsi Jawa Tengah, mencatatkan hari tanpa hujan terlama, ini sudah mencapai 122 hari. Wilayah Purworejo sempat mengalami hari tanpa hujan hingga 80 hari, kata Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam program Kompas Petang di KompasTV.
Guswanto menambahkan bahwa kekeringan meteorologis di wilayah DIY berpotensi memicu krisis sosial dan ekonomi jika pasokan air pertanian dan domestik terus terganggu.
Kita juga melihat ada status awas kekeringan di wilayah DIY, ini juga peringatan dini kekeringan meteorologis, ini juga kita tekankan ada yang sudah melampaui 60 hari, ujar Guswanto.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan petani untuk mengantisipasi potensi gagal panen serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Pengelolaan sumber daya air secara efisien dinilai sangat krusial mengingat curah hujan bulanan diprediksi tetap berada di bawah kisaran normal.
Untuk peringatan dini kekeringan status Awas memiliki kriteria jumlah Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari dan prakiraan probabilitas curah hujan dasarian kurang dari 20 mm/dasarian dengan peluang di atas 70 persen, ujar Kepala Stasiun Klimatologi DIY Mamenun.
Kondisi kemarau panjang juga berisiko mengganggu pasokan air sektor pertanian secara luas apabila tidak ada tindakan penanganan yang terukur dari pihak terkait.
Kondisi ini dapat menimbulkan kekeringan yang berdampak pada berkurangnya pasokan air untuk pertanian dan bila berlangsung terus menerus tanpa langkah antisipasi, dapat mengakibatkan gagal panen, kata Mamenun.
Dampak kekeringan juga berisiko memperluas area rawan kebakaran serta menekan ketersediaan air bersih warga dalam beberapa bulan mendatang.
Kondisi ini dapat menimbulkan kekeringan yang berdampak pada berkurangnya pasokan air untuk pertanian dan bila berlangsung terus menerus tanpa langkah antisipasi, dapat mengakibatkan gagal panen. Selain itu, juga dapat berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akibat kekeringan, serta dapat mengakibatkan menurunnya ketersediaan air bersih untuk masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan antisipasi dan pengelolaan sumber daya air secara efisien, tambah Mamenun.
Di tengah status Awas kekeringan, warga di sejumlah titik Kota Jogja dan Bantul sempat dikejutkan oleh munculnya cuaca mendung dan hujan lokal pada awal September 2026. Namun, BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta menegaskan fenomena tersebut murni dipicu kelembapan tinggi pada lapisan atas atmosfer setinggi 1,5 kilometer, bukan penanda masuknya musim hujan maupun dampak aktivitas vulkanik.
Untuk akhir-akhir ini memang mendung karena ada pengaruh lapisan atas atmosfer yang cukup lembap, di kisaran 70-95 persen pada ketinggian 850 milibar. Jadi pembentukan awan cenderung meningkat karena massa uap air cukup banyak, kata Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta Rahma Fauzia pada Rabu (9/9/2026).
Pembentukan awan tebal tersebut dipastikan tidak berhubungan dengan aktivitas gunung berapi di wilayah sekitar.
Tidak ada kaitannya dengan aktivitas gunung vulkanik. Kejadian pembentukan awan ini dari faktor lokal saja, ujar Rahma.
Prakiraan curah hujan di DIY sepanjang September hingga Oktober 2026 diprediksi tetap berada pada kategori sangat rendah, yakni 0–20 milimeter per bulan. Kendati curah hujan diprakirakan meningkat hingga 100 milimeter pada November 2026, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata normal dan belum menandai dimulainya musim hujan.
Sementara itu, cuaca ekstrem berupa kemarau panjang dan ancaman banjir musim hujan juga membayangi proyek pelestarian cagar budaya di luar DIY. Di Provinsi Khanh Hoa, Vietnam, proyek restorasi Benteng Kuno Dien Khanh senilai 225,5 miliar VND berpacu dengan waktu karena ancaman longsor pada dinding tanah yang belum diperkuat rumput pelindung menjelang datangnya musim badai.
Meskipun pengerjaan fisik proyek telah mencapai 75 persen, kendala pembebasan lahan sebesar 25 persen tersisa memicu kekhawatiran warga lokal. Bapak Nguyen Van Tron, seorang warga setempat, menyampaikan keprihatinannya saat melihat struktur tanah benteng dibiarkan terbuka tanpa perlindungan di tengah ancaman hujan deras.
Jika benteng tanah dibiarkan terbuka seperti ini, semuanya akan hanyut saat hujan. Semua uang dan upaya Negara akan sia-sia, kata Nguyen Van Tron seperti dilansir dari vietnam.vn.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh warga lokal lainnya terkait risiko lingkungan dan pengolahan limbah di area situs bersejarah tersebut.
Air limbah dibuang secara diam-diam langsung ke parit yang mengelilingi Benteng Kuno Dien Khanh, sehingga menimbulkan risiko tinggi pencemaran air dan masalah sanitasi lingkungan, ujar warga setempat Nguyen Tan Thanh.
Menanggapi keluhan masyarakat, pihak pengelola proyek terus mempercepat penanaman rumput penahan lereng dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk menyelesaikan pembebasan lahan yang tersisa sebelum akhir tahun 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow