Bursa Asia Melemah Imbas Lonjakan Yield Obligasi Global

Smallest Font
Largest Font

Bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026) akibat lonjakan imbal hasil obligasi global dan kecemasan investor terhadap konflik Amerika Serikat dengan Iran yang berkepanjangan. Tekanan pasar terjadi saat pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Juli, simposium Federal Reserve di Jackson Hole, serta laporan keuangan perusahaan kecerdasan buatan.

Indeks MSCI Asia Pasifik terkoreksi 0,1 persen, sementara indeks Kospi di Korea Selatan merosot hingga 1,2 persen. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,10 persen. Sebaliknya, indeks S&P/ASX 200 Australia berhasil menguat 0,33 persen dan indeks Kosdaq Korea Selatan naik 0,94 persen.

Tekanan di bursa dipicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang menembus 5,3 persen pekan lalu, mencapai level tertinggi dalam 20 tahun. Suku bunga obligasi di Jepang, Prancis, dan Jerman juga melonjak ke level tertinggi multi-tahun. Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun 1 persen ke US$93,45 per barel menjelang pengumuman rencana isolasi ekonomi Iran oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Analis Brown Brothers Harriman menyoroti efektivitas rencana anggaran pemerintah Amerika Serikat di tengah proyeksi kenaikan utang negara.

"Tanpa pemotongan belanja atau peningkatan pendapatan yang kredibel, rencana Gedung Putih berisiko hanya menjadi sekadar mempercantikan tampilan luar," kata Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman.

Untuk meredam lonjakan imbal hasil obligasi, Departemen Keuangan AS mengambil langkah taktis melalui program pembelian kembali obligasi tenor panjang.

"Menurut saya, keputusan mendadak Departemen Keuangan untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang secara taktis pada dasarnya merupakan 'Operation Twist' yang dipimpin oleh Departemen Keuangan yang dirancang untuk merespons perubahan kondisi pasar jangka pendek dan bukan bentuk pelonggaran kuantitatif (QE)," kata David Zervos, Chief Market Strategist Jefferies.

Langkah taktis tersebut dinilai tetap memberikan dampak langsung terhadap dorongan kondisi ekonomi makro.

"Meskipun pembelian kembali tidak menciptakan cadangan dana dan karenanya tidak memiliki mekanisme pencetakan uang secara langsung seperti QE, saya yakin langkah ini membuka ruang bagi ekspansi fiskal dan memberikan efek reflasi yang mirip dengan QE," ujar David Zervos.

Sektor teknologi turut menjadi perhatian investor seiring rencana penawaran saham Alibaba sebesar US$10,2 miliar untuk ekspansi kecerdasan buatan. Di saat bersamaan, Nvidia bersiap menaikkan harga server berbasis chip Vera Rubin dan Grace Blackwell lebih dari 15 persen untuk pengiriman awal tahun depan menjelang rilis laporan keuangannya pada Rabu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed