Pasar Keuangan Global Bergejolak Dipicu Inflasi AS dan Minyak
Pasar keuangan global dan domestik mengalami gejolak signifikan akibat rilis data inflasi Amerika Serikat serta peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada Jumat (11/9/2026). Dinamika tersebut memicu tekanan pada pergerakan imbal hasil obligasi, indeks saham, hingga nilai tukar rupiah.
Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS tercatat naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, sementara inflasi konsumen (IHK) tahunan berada di level 3,4%. Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pun meningkat hingga 67,4%, yang mendorong indeks dolar AS naik ke level 99,1 dan menekan harga emas sebesar 1,8% ke level US$4.318 per ons.
Aksi jual di pasar obligasi global sempat mendorong yield Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh 4,979% sebelum akhirnya melandai ke 4,93% setelah rilis data inflasi yang sesuai dengan proyeksi pasar.
"Pasar bisa bernapas lega karena inflasi berdasarkan indeks harga konsumen hari ini tidak lebih tinggi dari perkiraan atau melonjak," kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York.
Merespons situasi pasar modal, Pemerintah AS melalui Departemen Keuangan meningkatkan langkah intervensi pasar untuk menahan lonjakan biaya pinjaman. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan skema pembelian kembali surat utang Treasury bertenor panjang minimal US$4 miliar guna menstabilkan lonjakan imbal hasil obligasi.
"Saya yang memegang kendali," tegas Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$110 per barel dipicu gangguan pasokan di Selat Bab el-Mandeb akibat ketegangan geopolitik Houthi dan penurunan produksi Arab Saudi menjadi 6,2 juta barel per hari, sebelum akhirnya ditutup melandai di level US$104 per barel.
Manajer investasi global mencatat aksi pelepasan aset berisiko mulai terjadi di tengah penyesuaian porsi portofolio investor.
"Kita telah melihat investor mengambil risiko dalam waktu yang sangat panjang. Selama 108 hari berturut-turut, investor menambah eksposur terhadap aset berisiko. Tren itu baru saja terputus pekan ini," ujar Michael Metcalfe, Kepala Strategi Makro di State Street London.
Ketidakpastian geopolitik global dinilai menjadi penentu utama pergerakan pasar obligasi secara internasional.
"Seperti yang terjadi lagi, kekhawatiran geopolitik menjadi penggerak utama semuanya," kata Jim Reid, Ahli Strategi Deutsche Bank.
Dampak gejolak global turut menekan pasar domestik Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,7% ke level 6.541 pada Jumat (11/9/2026), sementara nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,4% menjadi Rp17.600 per dolar AS dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 7,13%.
Menanggapi potensi lonjakan harga energi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan dinaikkan, dengan opsi menambah alokasi anggaran subsidi energi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow