Cedera Parah Christantus Uche Memicu Desakan Perubahan Aturan FIFA

Smallest Font
Largest Font

Insiden cedera serius yang menimpa penyerang Getafe asal Nigeria, Christantus Uche, akibat tekel keras pemain AS Monaco memicu gelombang desakan publik agar FIFA mengubah regulasi sanksi hukuman tekel berbahaya, sebagaimana dilansir dari Bola.

Peristiwa tersebut terjadi dalam pertandingan pramusim antara AS Monaco dan Getafe di Stade Louis-II pada hari Kamis. Bek Monaco, Christian Mawissa, mendaratkan tekel terlambat ke tulang kering Uche hingga wasit langsung melayangkan kartu merah.

Pemeriksaan medis lanjutan menunjukkan lutut pemain berusia 23 tahun tersebut mengalami dislokasi serta robekan ligamen yang mengharuskan tindakan operasi. Pihak Getafe memastikan mantan pemain Crystal Palace itu terancam absen sepanjang musim 2026/2027.

Kondisi fatal yang dialami Uche memicu kemarahan publik di media sosial. Sejumlah netizen mendesak agar pemain yang mencederai lawan lewat tekel ceroboh dijatuhi skorsing hingga sang korban pulih total.

"Menurut berbagai surat kabar, Uche akan melewatkan seluruh musim bersama Getafe karena tekel kriminal Mawissa (Monaco) dalam pertandingan persahabatan. Lututnya hancur. Mawissa seharusnya tidak bermain sampai Uche pulih," tulis seorang pengguna media sosial.

Warganet lain menilai bahwa skorsing durasi panjang perlu diterapkan untuk memberikan efek jera kepada pelaku tekel berbahaya.

"Seharusnya ada aturan FIFA. Siapa pun yang mencederai pemain lain melalui tekel ceroboh atau dengan kekuatan berlebihan harus diskors dari semua kompetisi sampai pemain yang cedera kembali bermain. Selama periode itu, mereka menerima gaji minimum di liganya," tulis pengguna lain.

Desakan agar hukuman disesuaikan dengan lama waktu pemulihan korban juga mendapat dukungan luas dari publik.

"Sungguh memalukan. Dia seharusnya diskors selama pemain tersebut membutuhkan waktu untuk pulih. Saya setuju dengan itu," tulis pengguna lainnya.

Selain sanksi individu, warganet mengusulkan agar klub pelaku ikut menanggung beban finansial proses penyembuhan pemain yang cedera.

"Monaco harus membayar seluruh rehabilitasi Uche dan membebankannya kepada Mawissa. Hal-hal seperti ini harus dihukum berat, meskipun tidak disengaja," tulis seorang pengguna.

Kritik tajam turut diarahkan pada standar sanksi saat ini yang dinilai tidak sebanding dengan dampak cedera yang dialami korban.

"Kapan mereka akan menghapus proporsionalitas antara tekel, cedera, dan sanksi, dengan hukuman yang diberikan secara satu banding satu, yakni pemain dihukum dan dilarang bermain sampai pemain yang cedera kembali? Sudah cukup dengan hukuman yang terlalu ringan," tulis seorang pengguna.

Pertandingan uji coba itu sendiri berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan AS Monaco melalui gol penalti Paris Brunner di babak kedua. Seusai laga, pelatih Monaco Filipe Luis menyampaikan rasa simpatinya atas musibah yang menimpa Uche.

"Saya benar-benar turut prihatin atas apa yang dialami Christantus Uche. Kami tidak pernah ingin melihat hal seperti ini terjadi di lapangan. Saya mendoakan pemulihan yang cepat dan berharap dia bisa kembali secepat mungkin," ujar Filipe Luis, Pelatih AS Monaco.

Pihak Getafe lantas menyampaikan apresiasi terbuka atas kepedulian yang ditunjukkan oleh kubu Monaco dan sang pelatih.

"Terima kasih kepada Filipe Luís dan @AS_Monaco atas perhatian serta perlakuan yang diberikan kepada pemain kami, Christantus Uche. Kami mendoakan yang terbaik untuk musim 2026/2027," tulis perwakilan Getafe.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed