David Raya Ungkap Kesedihan Usai Gagal Juara Liga Champions
Penjaga gawang Arsenal dan tim nasional Spanyol, David Raya, mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah timnya mengalami kekalahan dramatis dalam pertandingan final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain (PSG) di Budapest melalui babak adu penalti.
Kekalahan tersebut membuyarkan harapan Arsenal untuk mengawinkan gelar domestik Liga Inggris musim 2025-2026 dengan trofi tertinggi Eropa, meskipun Raya sukses menyabet penghargaan Golden Glove untuk musim ketiga secara beruntun. Kegagalan eksekusi penalti dari Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes membuat skuad asuhan Mikel Arteta harus merelakan trofi jatuh ke tangan PSG setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.
Saat berada di pemusatan latihan tim nasional Spanyol di Chattanooga, Tennessee, Raya menyempatkan diri mencari informasi mengenai daftar mantan pemain Southport yang menembus Piala Dunia melalui ponselnya dan menemukan nama kiper Selandia Baru, Max Crocombe.
"No, no, there’s someone else," ujar David Raya, penjaga gawang Arsenal.
Dirinya kemudian menemukan rincian informasi mengenai mantan pemain tersebut yang pernah membela Southport sebagai pemain pinjaman dari Oxford United.
"‘… the goalkeeper, who played in yesterday’s match, was at Southport on loan from Oxford United…’ Yeah, Max Crocombe. I think that is right" kata David Raya.
Ketika bergabung dengan tim nasional untuk persiapan Piala Dunia, Raya langsung menemui penggawa PSG, Fabian Ruiz, untuk memberikan ucapan selamat atas keberhasilan menjuarai Liga Champions.
"I arrived a bit before Fabian. I was saying hello to some of the others in the reception when he arrived. I went to say congratulations; that was almost the first thing I did," ucap David Raya.
Raya mengaku bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum bisa mendiskusikan jalannya pertandingan final di Budapest tersebut bersama Ruiz.
"I couldn't really talk after the final; I just didn't have it in me. The next day we talked about the game properly. Just two mates chatting. I was happy that he could lift the trophy for a second time." tutur David Raya.
Kekalahan dalam laga puncak kompetisi antarklub Eropa ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi seluruh elemen tim London Utara yang sudah lama mendambakan gelar tersebut.
"The thing is, when you lose a Champions League final, when you get there for the first time in 20 years and then you lose on penalties, it destroys you inside." sebut David Raya.
Meskipun merasa hancur secara emosional, kiper berusia 30 tahun tersebut tetap bangga dengan kerja keras yang ditunjukkan oleh timnya sepanjang musim.
"I left there with my head held high because of the work we had done all year, but I was broken inside because we were so, so, so, so close." tambah David Raya.
Ia juga menyadari bahwa kesempatan untuk tampil dalam pertandingan final kompetisi tertinggi di Eropa tidak datang secara mudah bagi seorang pesepak bola.
"You don't know when you'll play another one or even if you will play another one." lanjut David Raya.
Proses pemulihan mental setelah malam pertandingan di Budapest diakui Raya berjalan sangat sulit dan menguras emosi.
"When I went home, I was broken. We stayed overnight [in Budapest] and travelled the next morning. That night is very, very hard. The following morning too," jelas David Raya.
Kesedihan skuad Arsenal mulai terobati saat mereka kembali ke London untuk merayakan keberhasilan menjuarai Premier League bersama para suporter.
"Then you reach the Emirates, you see the fans and that lifts you. When you come out on the bus with the Premier League trophy and see all the people, what it means to them, you realise what you've done." papar David Raya.
Raya mencoba melihat pencapaian klub secara keseluruhan dengan perspektif yang lebih luas guna mengembalikan motivasi bermainnya.
"Personally, those were very, very hard moments, but you take a step back and look at it with perspective. You think about the way the club was a few years ago and the way it is now, and that gets a smile out of you." ungkap David Raya.
Melalui evaluasi tersebut, target baru telah dicanangkan untuk menghadapi ketatnya kompetisi pada musim berikutnya.
"That's when you think next year we can do better and win the Champions League." pungkas David Raya.
Secara historis, Arsenal tercatat sebagai klub yang memainkan pertandingan terbanyak di Liga Champions tanpa pernah memenangi trofi tersebut, dengan total 226 laga. Kini, fokus tim akan segera beralih ke jadwal Premier League musim 2026-2027, di mana mereka dijadwalkan menjamu tim promosi Coventry City pada pertandingan pekan pembuka sebelum menghadapi tantangan dari Aston Villa, Chelsea, Sunderland, dan Brighton.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow