Depresiasi Mobil Listrik Bekas Sentuh 60 Persen Akibat Tren Pasar Global
Riset pasar otomotif global pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan tren penurunan nilai jual atau depresiasi mobil listrik bekas yang sangat signifikan, bahkan menyentuh angka 60 persen setelah lima tahun pemakaian. Data terkini mengonfirmasi bahwa penyusutan harga kendaraan berbasis baterai ini berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional.
Kondisi pasar ini menjadi sorotan tajam bagi para calon konsumen yang sedang menimbang untung dan rugi sebelum membeli kendaraan ramah lingkungan tersebut. Fenomena anjloknya harga di pasar sekunder ini dipicu oleh berbagai faktor teknis, mulai dari perkembangan teknologi yang masif hingga kekhawatiran mengenai masa pakai komponen utama.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan Viva, penyusutan harga tertinggi terjadi pada kategori sedan listrik premium, khususnya model-model produksi pabrikan Jerman. Jenis kendaraan mewah ini mencatat penurunan nilai jual antara 60 persen hingga lebih dari 70 persen setelah masa penggunaan lima tahun terlampaui.
Merosotnya harga jual kembali juga dialami oleh pabrikan otomotif terkemuka lainnya di pasar global. Mobil listrik massal pertama yang diluncurkan oleh produsen asal Inggris, serta sedan flagship listrik asal Amerika Serikat, sama-sama mengalami penurunan nilai bekas hingga lebih dari 60 persen dalam periode lima tahun.
Tidak hanya melanda segmen premium, mobil listrik non-premium seperti model hatchback Jepang generasi lama juga tidak luput dari tren negatif ini. Kendaraan listrik untuk pasar massal tersebut mencatatkan penurunan harga di kisaran 63 persen hingga 66 persen setelah lima tahun digunakan oleh pemilik pertama.
| Jenis Kendaraan | Persentase Depresiasi Setelah 5 Tahun |
|---|---|
| Sedan Listrik Premium Jerman | 60% – 70% |
| Mobil Listrik Massal Inggris | > 70% |
| Sedan Flagship Listrik AS | > 60% |
| Hatchback Listrik Jepang (Lama) | 63% – 66% |
| Mobil Bermesin Konvensional (ICE) | 40% – 50% |
Sebagai perbandingan, mobil bermesin konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE) menunjukkan performa pertahanan harga yang jauh lebih stabil. Kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel rata-rata hanya mengalami depresiasi sekitar 40 persen hingga 50 persen dalam periode waktu lima tahun yang sama.
Faktor Penyebab Jatuhnya Harga di Pasar Sekunder
Laporan dari Suara menyebutkan bahwa dinamika penurunan harga ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun-tahun awal kepemilikan. Data pergerakan harga pasar menunjukkan bahwa mobil listrik yang baru berusia 3 tahun saja sudah kehilangan nilai jual hingga 40 persen sampai 50 persen dari harga barunya.
Salah satu pemicu utama kenapa harga mobil listrik bekas jatuh adalah kecemasan konsumen mengenai ketahanan baterai mobil listrik bekas. Komponen baterai merupakan elemen paling mahal dalam struktur kendaraan listrik, sehingga kondisi kesehatan baterai atau State of Health (SoH) menjadi penentu utama harga jual.
Meskipun sebagian besar produsen mobil listrik sudah memberikan jaminan proteksi berupa garansi baterai selama 8 hingga 10 tahun atau sekitar 160.000 kilometer, kecemasan konsumen di pasar mobil bekas tetap tinggi. Calon pembeli umumnya merasa khawatir terhadap potensi biaya penggantian baterai yang sangat mahal jika masa garansi tersebut habis.
Faktor lain yang mempercepat penurunan harga adalah agresivitas produsen dalam merilis model baru dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan harga baru yang lebih kompetitif. Kemunculan teknologi baterai yang lebih efisien membuat mobil listrik generasi lama langsung terlihat usang dan kehilangan daya tarik di mata konsumen.
Perkembangan Pasar Domestik dan Konsumsi Energi
Di tengah bayang-bayang depresiasi yang tinggi, adopsi kendaraan listrik di dalam negeri justru menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Merujuk pada data industri otomotif nasional, kontribusi atau pangsa pasar mobil listrik di Indonesia pada kuartal I 2026 berhasil mencapai sekitar 15,9 persen dari total penjualan mobil nasional.
Angka penetrasi tersebut melonjak tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pangsa pasar mobil listrik Indonesia pada kuartal I 2025 terpantau berada di kisaran 7,9 persen, yang berarti terjadi kenaikan pangsa pasar sekitar 8 poin persentase atau hampir meningkat dua kali lipat dalam setahun.
Peningkatan populasi kendaraan setrum di jalanan ini secara otomatis memicu lonjakan kebutuhan energi secara nasional. Berdasarkan data operasional infrastruktur pengisian daya, konsumsi listrik untuk kendaraan listrik di stasiun pengisian umum selama periode 12–31 Maret 2026 melesat hingga mencapai 7,16 juta kWh.
Volume penggunaan energi tersebut meningkat drastis dibandingkan dengan catatan historis tahun lalu. Pada periode tanggal yang sama, yaitu 12–31 Maret 2025, konsumsi listrik untuk pengisian daya kendaraan elektrifikasi di fasilitas publik hanya berada di angka 1,75 juta kWh.
Pertumbuhan pasar yang masif ini didorong oleh kebijakan insentif pemerintah serta perluasan jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di berbagai jalur utama. Kendati demikian, kalkulasi mengenai nilai depresiasi jangka panjang tetap menjadi faktor krusial yang wajib diperhitungkan oleh konsumen sebelum memutuskan transaksi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow