Diagnosis Sembelit Bayi Florence Ternyata Kanker Langka
Pembengkakan perut pada balita berusia satu tahun sempat didiagnosis dokter umum sebagai masalah pencernaan biasa. Namun, kondisi medis yang dialami bayi bernama Florence Wilde tersebut ternyata merupakan indikasi penyakit tumor ganas langka.
Kisah ini dikutip dari Detik Health. Saat pertama kali diperiksakan karena perut membengkak dan sering lemas, tim medis memberikan pengobatan pencahar. Pengobatan tersebut membuat balita itu terus menangis menahan rasa sakit.
Meskipun pemeriksaan diulang saat kondisi perut semakin membesar, dokter tetap menyimpulkan kondisi tersebut sekadar konstipasi. Sang ibu, Anna Chattaway, bahkan sempat diberitahu oleh dokter bahwa kondisi anaknya tidak mengarah pada kanker.
Rasa sakit membuat Florence tidak mampu tidur sendiri dan harus digendong dalam posisi berdiri. Pihak keluarga kemudian mendesak agar dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk memastikan penyebab pastinya.
Hasil tes pada November 2024 akhirnya mengonfirmasi bahwa Florence mengidap neuroblastoma. Jenis kanker langka ini berkembang dari sel-sel saraf yang belum matang dan umumnya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun.
Florence yang telah menginjak usia dua tahun harus menjalani penanganan medis berupa penanganan kemoterapi serta bedah pengangkatan tumor berukuran 30 cm. Tumor seberat 2 kg tersebut menyumbang sekitar 15 persen dari total berat badannya yang bernilai 13 kg.
"Dia didiagnosis sebulan setelah ulang tahun pertamanya," kata Anna.
"Ada periode enam minggu sebelumnya sebelum dia sakit karena berbagai hal," tambahnya.
"Dia terkena infeksi, dia menderita penyakit tangan, kaki, dan mulut, dia diberi antibiotik tetapi tidak bisa beraktivitas untuk sementara waktu," tambahnya.
Awalnya, tim medis memperkirakan keberadaan massa tumor hanya terlokalisasi pada area perut. Namun, pemindaian lanjutan pada Januari 2025 memperlihatkan sel kanker telah mengalami penyebaran hingga ke area tulang belakang.
"Penyakit itu menyebar dengan cepat dalam beberapa minggu, itulah mengapa kami sangat marah karena jika seseorang melihatnya saat pertama kali kami pergi ke dokter umum, kami bisa mendeteksinya lebih cepat."
Tindakan medis pada Maret 2025 berhasil mengangkat hingga 95 persen massa tumor tersebut. Tiga minggu pasca-operasi, Florence langsung dijadwalkan menerima terapi kemoterapi dosis tinggi.
Prosedur dilanjutkan dengan tahapan imunoterapi pada Oktober 2025. Perkembangan sel kanker tersebut akhirnya dinyatakan berhenti berkembang pada April 2026.
"Sepanjang waktu kami diberitahu bahwa dia baik-baik saja. Setiap kali dirawat, dia selalu penuh semangat, dia sungguh luar biasa," kata Anna.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow