Dokter SiloamTB Simatupang Ungkap Sesak Naik Tangga Gejala Aritmia
Rasa sesak napas berlebihan dan berulang ketika melakukan aktivitas fisik ringan seperti menaiki tangga berpotensi menjadi gejala gangguan irama jantung atau aritmia. Spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals TB Simatupang, dr Budi Ario Tejo, SpJP(K), menyatakan kondisi tersebut tidak boleh langsung diabaikan sebagai sekadar tanda tubuh kurang fit, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Rabu (2/9/2026).
Gejala sesak napas saat beraktivitas ringan memang bisa disebabkan oleh kapasitas fungsional organ yang belum terbiasa berolahraga. Meski demikian, penurunan fungsi jantung atau masalah pada irama detak organ tersebut juga berisiko menjadi pemicu utamanya, termasuk kondisi bradikardia atau detak jantung di bawah 60 kali per menit saat istirahat.
"Bisa dari kapasitas fungsional jantungnya itu sendiri. Dengan kata lain mungkin exercise-nya kurang, jadi jantungnya kurang terlatih," kata dr Budi ketika temu media daring, Rabu (2/9/2026).
Guna mendeteksi timbulnya masalah medis ini, pemeriksaan sederhana dapat dilakukan dengan memantau pergerakan laju detak organ saat tubuh menerima beban aktivitas. Apabila tidak ada kenaikan laju detak saat menaiki tangga, indikasi gangguan irama perlu diwaspadai.
"Kondisi lain adalah ada masalah dari irama jantungnya, atau bisa juga masalah pompa jantungnya. Di mana kemampuan pompa jantungnya berkurang, sehingga pada beban jantung yang tidak terlalu tinggi sudah timbul keluhan," katanya.
Pemeriksaan mendalam diperlukan untuk memastikan apakah ada gangguan pada sistem kelistrikan organ tubuh tersebut.
"Kalau untuk menyingkirkan bradiaritmianya, kita tes saja pada saat naik tangga, laju jantungnya naik atau nggak? Kalau pada saat naik tangga atau aktivitas lain laju jantungnya tidak bergeming, ada kemungkinan terjadi gangguan irama," lanjutnya.
Penderita bradiaritmia umumnya membutuhkan penanganan medis berupa pemasangan alat pacu jantung permanen atau pacemaker. Pemilihan jenis alat, baik versi konvensional maupun modern tanpa kabel (leadless pacemaker), disesuaikan dengan rekam medis dan kondisi fisik masing-masing pasien.
"Biasanya yang usianya sangat lanjut, biasanya ringkih, kulitnya tipis, itu kalau misalnya kami lakukan pemasangan pacemaker yang standar itu risiko infeksi tinggi," katanya.
Penggunaan alat pacu jantung modern tanpa kabel juga dianjurkan bagi kelompok rentan tertentu demi menghindari komplikasi kesehatan.
"Atau pada pasien dengan cuci darah, yang harus rutin cuci darah rutin dengan akses pembuluh darah besar," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow