Dolar AS Menguat Mendekati Level Tertinggi Efek Ketegangan Timur Tengah
Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat mendekati level tertinggi dalam satu bulan pada sesi perdagangan Rabu (29/7/2026) waktu Asia. Lonjakan permintaan aset aman dipicu oleh eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah serta sikap kehati-hatian investor menjelang pengumuman keputusan suku bunga Federal Reserve.
Mengutip Reuters, pergerakan mata uang global cenderung terbatas karena pelaku pasar menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee. Ekspektasi pasar mencatat peluang sebesar 33 persen bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Tekanan inflasi global kembali mengemuka setelah militer AS mengonfirmasi keberhasilan mencegat sejumlah rudal balistik Iran yang diarahkan ke pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan ini langsung mendongkrak penguatan dolar sebagai aset lindung nilai.
Penguatan mata uang AS menekan euro hingga bertahan di dekat level terendah satu bulan pada posisi US$ 1,1386, setelah mengalami penurunan 0,3 persen sepanjang Juli. Pada saat yang sama, pound sterling melemah 0,06 persen ke level US$ 1,3282 yang mendekati posisi terendahnya sejak awal bulan.
Analis Pasar IG Fabien Yip memberikan pandangannya terkait arah kebijakan moneter AS di tengah dinamika geopolitik ini.
"Saya masih berpandangan The Fed membutuhkan lebih banyak bukti mengenai seberapa lama risiko inflasi akan bertahan," ujar Yip.
Yip memperkirakan nilai tukar dolar AS berpotensi terus bertahan kuat akibat berlanjutnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve dinilai masih memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan sikap hawkish dibandingkan bank sentral utama dunia lainnya.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang utama saat ini bertahan pada posisi 101,43. Sementara itu terhadap yen Jepang, dolar menguat tipis ke tingkat 163,88 yen yang mendekati level terendah mata uang Jepang dalam 40 tahun terakhir.
Kepala Strategi Valuta Asing SMBC Hirofumi Suzuki turut menyampaikan proyeksinya mengenai potensi pergerakan mata uang Jepang.
"Risiko intervensi valuta asing terlihat cukup besar karena otoritas keuangan Jepang telah meningkatkan peringatannya. Jika yen kembali melemah setelah rapat kebijakan Bank of Japan, kondisi itu bisa menjadi pemicu intervensi," kata Suzuki.
Suzuki menambahkan bahwa keputusan hasil rapat FOMC dan konferensi pers Ketua The Fed berpotensi memicu penguatan dolar lebih lanjut hingga menembus level 164 yen. Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan dolar Australia tercatat relatif datar pada level US$ 0,6973 menjelang rilis data inflasi domestik, sedangkan dolar Selandia Baru terkoreksi 0,09 persen ke posisi US$ 0,5782.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow