BRICS Pangkas Ketergantungan Dolar AS Hingga Sisa 35 Persen

Smallest Font
Largest Font

Aliansi negara BRICS mencatatkan penurunan signifikan dalam penggunaan dolar AS pada transaksi perdagangan lintas batas antaranggota, dengan porsi penyelesaian yang kini tersisa 35 persen. Pengurangan ketergantungan mata uang Paman Sam tersebut dicapai melalui perluasan skema pembayaran menggunakan mata uang lokal masing-masing negara. Perubahan struktur pembayaran ini dipaparkan dalam laporan terbaru yang dikutip dari laporan EuroSchool India pada Sabtu, 22 Juni 2026.

Laporan tersebut mencatat dominasi mata uang lokal yang kini telah menguasai mayoritas nilai transaksi aliansi. "Aliansi BRICS telah menggunakan dolar AS hanya untuk 35% perdagangan lintas batas, sementara 65% transaksi lainnya dilakukan menggunakan mata uang lokal," kata Direktur Pranan Consulting Pradip Dhir.

Langkah strategis ini menjadi bagian utama dari agenda dedolarisasi BRICS yang diintensifkan sejak 2022. Penerapan mata uang lokal ditujukan untuk menekan biaya transaksi ekspor-impor sekaligus memangkas ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar AS.

Rusia dan China memelopori integrasi ini dengan menggunakan yuan dan rubel secara masif dalam penyelesaian transaksi bilateral, khususnya pada sektor energi dan komoditas. Langkah serupa diikuti oleh India yang memanfaatkan kombinasi rupee, rubel, dan dirham, serta Iran yang mengandalkan yuan China untuk mengatasi dampak sanksi ekonomi AS. Perluasan mata uang lokal juga merambah ke sektor minyak bumi setelah Arab Saudi menyetujui penerimaan yuan dalam perdagangan energi. Strategi perdagangan berbasis mata uang lokal yang kian diperkuat oleh China sejak 2024 ini makin mengukuhkan posisi mata uang anggota BRICS di pasar global.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed