Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen pada Semester I 2026

Smallest Font
Largest Font

Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,45 persen secara tahunan pada Semester I 2026 di tengah tekanan dan ketidakpastian global. Capaian indikator makro berdasarkan data Badan Pusat Statistik ini disampaikan Pemerintah dalam Penyampaian Pengantar RUU APBN 2027 pada Jumat (14/8/2026).

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kinerja ekonomi nasional menunjukkan performa yang sangat positif. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi sempat menyentuh angka 5,61 persen sebelum mencatatkan rata-rata 5,45 persen di paruh pertama tahun ini.

"Ekonomi kita pada semester pertama tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Inflasi masih tetap terkendali. Permintaan domestik tetap kuat," kata Presiden Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Penguatan ekonomi ini turut ditopang oleh realisasi investasi Semester I 2026 yang menembus Rp 1.010,6 triliun atau hampir 50 persen dari target annual sebesar Rp 2.041,3 triliun. Investasi tersebut mencatatkan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 1,45 juta orang, dengan porsi luar Jawa mencapai Rp 507,8 triliun dan sektor hilirisasi sebesar Rp 300,1 triliun.

Meskipun demikian, pengamat ekonomi memberikan catatan krisis atas kualitas angka pertumbuhan tersebut. Faktor musiman Ramadhan, Idul Fitri 1447 Hijriyah pada Maret 2026, serta efek basis rendah dari pertumbuhan 4,87 persen pada triwulan I 2025 dinilai memberi dorongan signifikan pada angka PDB 2026.

"Secara data, memang pertumbuhan triwulan 1 kemarin tertinggi dalam 13 tahun terakhir jika dibandingkan triwulan 1 tahun sebelumnya," kata Nailul Huda, Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios).

Nailul Huda menambahkan bahwa lonjakan investasi kendaraan yang tercatat dipicu oleh program impor operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

"Importasi mobil untuk KDMP akhirnya membuat investasi kendaraan meningkat (dari impor). Tapi kualitasnya justru tidak meningkat ketika melihat sumber peningkatan lebih disebabkan oleh impor," kata Nailul Huda, Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios).

Sektor ketenagakerjaan juga menunjukkan penurunan elastisitas penyerapan tenaga kerja dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja tercatat menurun dari 950.000 orang per 1 persen pertumbuhan ekonomi pada 2024 menjadi hanya 340.000 orang pada Semester I 2026 akibat dominasi investasi padat modal.

"Pertumbuhan ekonomi yang dibangga-banggakan Pak Prabowo ini adalah pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya problematis dan tidak menjawab persoalan dari sisi kebutuhan kelas menengah dan kebutuhan generasi muda untuk memperoleh pekerjaan yang layak," kata Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios).

Di sisi lain, kestabilan sektor pangan nasional berhasil dijaga melalui capaian swasembada komoditas strategis seperti beras, jagung, cabai, gula konsumsi, serta daging dan telur ayam, dengan Cadangan Beras Pemerintah menembus angka lebih dari 5 juta ton.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed