Mengenal Fakta Kuah Beulangong Hidangan Khas Aceh Perayaan Maulid Nabi
Sajian kuah Beulangong menjadi salah satu kuliner wajib masyarakat Aceh saat menyambut perayaan Maulid Nabi SAW. Dikutip dari Detik Food, masakan tradisional ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam bagi warga setempat. Pemerintah secara resmi menetapkan kuah Beulangong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2018.
Pengakuan ini memperkuat posisi kuliner khas Aceh Besar tersebut dalam panggung budaya nasional. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar Bahrul Jamil mengungkapkan bahwa penetapan status WBTB ini mendorong motivasi pelestarian. Langkah ini diharapkan membuat kebudayaan lokal semakin dikenal hingga kancah internasional.
Selain momen Maulid Nabi SAW, masyarakat sering menyajikan olahan ini dalam berbagai ritual sosial. Acara kenduri, syukuran, hingga resepsi pernikahan kerap mengandalkan menu kebanggaan warga tersebut.
Proses Memasak dan Tradisi Gotong Royong
Istilah Beulangong berakar dari kata belanga yang memiliki arti kuali besar. Penggunaan wadah besar ini memungkinkan proses memasak dalam porsi masif hingga mencapai 300 porsi sekaligus. Bahan utamanya memadukan daging sapi, kerbau, atau kambing bersama racikan rempah khas. Pengolahannya juga memanfaatkan bahan pelengkap seperti nangka muda, pisang muda, hingga batang pisang bagian dalam.
Tradisi pengolahannya tergolong unik lantaran sepenuhnya dikerjakan oleh kaum pria. Para pria memasak secara bergantian selama kurang lebih dua jam sampai masakan matang sempurna. Aktivitas memasak bersama ini memicu penguatan rasa tanggung jawab serta semangat gotong royong warga. Bahrul Jamil menilai tradisi ini menjadi identitas budaya penting di tengah era modernisasi.
Jejak Sejarah Abad ke-19
Kemunculan tradisi memasak kuah Beulangong diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-19. Perkembangannya terikat erat dengan keberadaan pedagang Gujarat asal India yang menyebarkan ajaran Islam.
Kuliner ini juga menjadi bagian utama dari ritual Khanduri Blang. Tradisi kenduri tersebut digelar para petani sebagai bentuk doa bersama menjelang datangnya musim tanam padi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow