Gempa Magnitudo 6,8 Hantam Kumamoto Jepang, 34 Orang Tewas

Smallest Font
Largest Font

Gempa bumi kuat bermagnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa pukul 16.30 waktu setempat, menewaskan sedikitnya 34 orang dan melukai puluhan warga lainnya akibat ledakan gas serta bangunan yang runtuh.

Pusat gempa tercatat berada sekitar 20 kilometer di selatan Kota Kumamoto. Bencana ini memicu ledakan gas di pusat perbelanjaan Aeon yang menewaskan lima pekerja, serta meruntuhkan cerobong asap pabrik kertas Nippon Paper di Yatsushiro yang menewaskan delapan pekerja.

Upaya pencarian korban selamat terhambat oleh suhu udara ekstrem yang mencapai lebih dari 35 derajat Celsius serta guncangan gempa susulan. Pemerintah Jepang mengerahkan sekitar 5.000 personel Pasukan Bela Diri (SDF) untuk membantu evakuasi dan mendistribusikan bantuan logistik.

Dampak gempa juga merusak infrastruktur dasar di daerah terdampak. Lebih dari 22.000 rumah mengalami pemadaman listrik, sementara 75.000 rumah kehilangan akses air bersih, sehingga memaksa sekitar 15.000 warga mengungsi ke 400 titik lokasi pengungsian.

Sektor industri otomotif dan semikonduktor di wilayah Kyushu turut terdampak hingga menghentikan sementara operasional mereka. Perusahaan otomotif besar seperti Toyota dan Honda menghentikan produksi pabrik untuk memeriksa rantai pasokan, sementara pabrik pembuat chip TSMC telah melanjutkan aktivitasnya secara bertahap.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa tersebut. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan jaringan komunitas warga di seluruh wilayah Kyushu.

"Untuk mereka yang sedang menunggu bantuan, kami akan mencurahkan seluruh upaya kami pada kegiatan penyelamatan dan bantuan," kata Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Pemerintah setempat terus berupaya memulihkan jaringan listrik dan menyalurkan pasokan air bersih bagi para pengungsi. Pasukan SDF diterjunkan untuk mengirimkan pendingin udara serta bahan makanan ke pusat-pusat pengungsian di Prefektur Kumamoto.

"Kami melakukan segala kemungkinan untuk menjadikan penyelamatan nyawa sebagai prioritas, melakukan upaya untuk menyampaikan pasokan penyelamat jiwa, dimulai dengan air," kata Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi.

Sektor pariwisata lokal juga merasakan dampak guncangan yang dinilai sebagai salah satu yang terkuat oleh para pelaku usaha di daerah tersebut.

"Ini adalah gempa bumi terkuat yang pernah saya alami," kata Kanzo Matsumoto, pengelola penginapan sumber air panas mewah di Yatsushiro.

Jepang yang berada di wilayah Cincin Api Pasifik mengalami sekitar 18 persen dari total gempa bumi dunia. Wilayah Kumamoto sendiri sebelumnya pernah dihantam gempa besar pada tahun 2016 yang menewaskan lebih dari 270 orang.

"Mengapa? Mengapa ini terus terjadi di sekitar kita di sini di Kumamoto?" kata Shoji Yonemitsu, seorang warga lokal.

Ia membandingkan guncangan kali ini dengan peristiwa bencana yang pernah melanda kawasan pemukimannya di masa lalu.

"Guncangan saat itu berada pada level yang sama sekali berbeda. Namun gempa kemarin masih cukup menakutkan," kata Shoji Yonemitsu.

Para ahli geologi mencatat adanya pergeseran permukaan tanah hingga 87 sentimeter di beberapa titik area terdampak. Risiko gempa susulan dengan kekuatan serupa diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

"Sekitar 10% dari gempa bumi dunia bermagnitudo 6 atau lebih tinggi terjadi di atau di sekitar Jepang, jadi risikonya jauh lebih tinggi daripada di tempat-tempat seperti Eropa atau Amerika Serikat bagian timur, di mana gempa bumi jarang terjadi," kata Shoichi Yoshioka, seorang profesor di Universitas Kobe Jepang.

Ia menjelaskan dampak psikologis dari bencana yang sering berulang terhadap kesiapsiagaan masyarakat setempat.

"Setiap kali, kita menyaksikan hilangnya nyawa yang tragis, bangunan yang hancur, dan tsunami yang menyebabkan kehancuran, meninggalkan kesan ketakutan yang mendalam," kata Shoichi Yoshioka.

Ia menambahkan bahwasanya tingkat kesiapan bencana warga Jepang terbentuk dari pengalaman menghadapi peristiwa alam tersebut secara berulang.

"Ketakutan ini kemungkinan dirasakan oleh banyak warga. Saya pikir ini berkontribusi secara signifikan mengapa Jepang sangat bersiap," kata Shoichi Yoshioka.

Tim penyelamat gabungan bersama kepolisian setempat terus melanjutkan penyisiran puing-puing bangunan untuk memastikan seluruh korban yang terjebak dapat dievakuasi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed