Gregor Kobel Antarkan Timnas Swiss ke Perempat Final Piala Dunia
Kiper utama tim nasional Swiss Gregor Kobel menjadi pahlawan kemenangan timnya dalam adu penalti melawan Kolombia untuk mengamankan tiket perempat final Piala Dunia. Keberhasilan ini sekaligus mewujudkan impian masa kecil penjaga gawang berusia 28 tahun tersebut untuk bersinar di panggung internasional.
Kehadiran keluarga di lokasi pertandingan menjadi faktor penting di balik performa apik penjaga gawang Borussia Dortmund tersebut. Kobel dapat menjaga keseimbangan mental berkat dukungan langsung dari tunangannya, Anna, beserta putri mereka yang masih berusia satu tahun.
"Ich bin stolz, wenn ich auf den Platz trete und die Hymne höre." kata Gregor Kobel, Kiper Timnas Swiss.
Kompetisi ini menjadi ajang pembuktian bagi Kobel setelah pensiunnya Yann Sommer dari tim nasional. Kebebasan yang diberikan oleh pelatih Murat Yakin membuat Kobel dapat tampil lepas dan penuh energi di setiap pertandingan.
"Das ist super wichtig", ujar Gregor Kobel, Kiper Timnas Swiss.
Dukungan keluarga diakui Kobel menjadi sarana terbaik untuk melepaskan tekanan di luar lapangan hijau. Hal itu membuatnya bisa kembali fokus dan mengerahkan seluruh kemampuan saat bertanding.
"ich bin ein Familienmensch und liebe meine Familie sehr. Es ist wichtig, dass du einen kleinen Ausgleich hast mit der Familie. Um runterzukommen und dann wieder mit Power in die Spiele zu gehen. Muri gibt uns Freiheiten, das schätze ich sehr." tutur Gregor Kobel, Kiper Timnas Swiss.
Mantan pelatih Kobel semasa junior di FC Seefeld menceritakan bahwa bakat sang kiper sudah terlihat sejak kecil. Ayahnya yang merupakan mantan pemain hoki es sempat meminta Kobel untuk dipasang sebagai penjaga gawang.
"Gregi war ein sehr angenehmer Junior, sehr diszipliniert." kata Marc Caprez, Mantan Pelatih Junior FC Seefeld.
Kedisiplinan Kobel juga diakui oleh mantan pelatih kipernya di GC yang mengenang etos kerja keras sang pemain sejak usia muda. Kobel selalu ingin terus berlatih meskipun kondisi cuaca sedang memburuk.
"So, fertig jetzt. Gehen wir unter die warme Dusche!" ujar Fred Zbinden, Mantan Pelatih Kiper GC.
Kobel menolak berhenti berlatih saat para pemain lain sudah kedinginan di atas lapangan. Semangat pantang menyerah tersebut yang dinilai membawanya menjadi bintang tim nasional seperti sekarang.
"Und dann sagt Greg: ‹Sie, Herr Zbinden, muss das sein? Die Trainingszeit ist noch nicht vorbei.› Und du bist dort gestanden und hast gefroren und der andere denkt nur ans Trainieren. Das ist Gregi." kenang Fred Zbinden, Mantan Pelatih Kiper GC.
Ketangguhan mental Kobel juga teruji saat ia mengalami patah lengan dalam sebuah kamp pelatihan di luar negeri. Bukannya beristirahat, ia justru tetap hadir di lapangan dengan kondisi tangan yang masih digips.
Laga berikutnya di babak perempat final akan mempertemukan Swiss dengan juara bertahan Argentina, di mana ketangguhan Gregor Kobel di bawah mistar gawang kembali menjadi tumpuan utama timnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow