Gubernur Jabar Jelaskan Penyebab PHK di Industri Garmen Cimahi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di industri garmen di Kota Cimahi, termasuk penutupan PT Namnam Fashion Industries yang berdampak pada 178 pekerja, disebabkan oleh pergeseran investasi ke daerah dengan biaya tenaga kerja lebih murah.
Menurut Dedi Mulyadi, fenomena ini umum terjadi pada industri padat karya seperti garmen, tekstil, dan alas kaki yang sangat bergantung pada efisiensi biaya produksi.
"Perusahaan padat karya memang begitu. Kalau sudah mencapai titik tertentu dan ada daerah lain yang biaya tenaga kerjanya lebih murah, biasanya mereka pindah. Itu terjadi di mana-mana," ujar Dedi Mulyadi pada Selasa (4/7/2026).
Dia menjelaskan bahwa karakter industri padat karya berbeda dengan industri padat modal yang cenderung menetap dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan garmen cenderung memindahkan basis produksinya ketika ada lokasi yang lebih kompetitif.
"Kalau industri padat karya, khususnya garmen, memang harus dipahami bahwa dalam siklus usahanya bisa saja menutup atau berpindah lokasi," tambahnya.
Meski terjadi PHK, Dedi Mulyadi memastikan bahwa peluang kerja di Jawa Barat masih terbuka luas. Dia menyebutkan saat ini sejumlah kawasan industri baru berkembang dan membutuhkan tenaga kerja besar, terutama di sektor alas kaki dan garmen.
"Hari ini lapangan kerja baru juga banyak. Kawasan industri terus tumbuh. Rekrutmen untuk industri sepatu, alas kaki, maupun garmen sangat besar di Indramayu, Majalengka, termasuk Garut," ungkapnya.
Dedi Mulyadi menilai perpindahan investasi dipengaruhi oleh struktur biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif dibandingkan kawasan industri lama seperti Bandung Raya, Karawang, Purwakarta, dan Bandung Barat.
"Kalau dulu banyak di Bandung, Karawang, Purwakarta, atau Bandung Barat, sekarang bergeser karena di Indramayu dan Majalengka upahnya lebih rendah sehingga perusahaan memilih berinvestasi di sana," katanya.
Dia mengimbau pekerja yang terdampak PHK untuk mempertimbangkan peluang kerja di kawasan industri baru tersebut.
"Kalau ingin tetap bekerja di sektor garmen atau alas kaki, memang harus siap bergeser ke daerah-daerah itu. Kebutuhan tenaga kerjanya masih sangat besar, mencapai puluhan ribu orang," kata Dedi Mulyadi.
Sebelumnya, PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi menghentikan operasionalnya sehingga 178 pekerja kehilangan pekerjaan setelah mengalami penurunan pesanan yang berkepanjangan, menurut data dari Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow