Matteo Guendouzi Picu Kerusuhan Usai Fenerbahce Kalahkan Lyon

Smallest Font
Largest Font

Matteo Guendouzi, gelandang Fenerbahce asal Prancis, memicu kerusuhan besar setelah pertandingan playoff Liga Champions antara Fenerbahce dan Lyon yang berlangsung pada Rabu malam.

Fenerbahce menang 2-1 atas Lyon di Stadion Groupama, Prancis, dan memastikan tempat mereka di fase grup Liga Champions musim ini, dengan agregat 3-2 setelah leg pertama seri 1-1 di Istanbul.

Kerusuhan terjadi ketika Guendouzi merayakan kemenangan dengan cara yang dianggap memprovokasi suporter dan pemain Lyon, terutama dengan melakukan tanda Jul, simbol rapper Marseille, yang merupakan rival berat Lyon.

Guendouzi kemudian menjadi sasaran makian dan serangan dari suporter Lyon hingga terjadi kericuhan di lapangan dan lorong menuju ruang ganti, yang akhirnya dipisahkan oleh staf pelatih kedua tim, seperti dilaporkan RMC Sport dan aljazeera.com.

"Ketika 60.000 orang menghina keluargamu, ibumu, anak-anakmu bahkan sebelum pertandingan dimulai dan tidak ada satu pun di stadion yang menegur mereka untuk berhenti, jika kamu ingin memprovokasi, itu bisa dua arah. Jika kamu tidak bisa merayakan sesukamu, jika kamu tidak bisa membuat tanda JUL, ke mana kita akan pergi!" ujar Guendouzi memberikan alasan atas tindakannya, menurut laporan RMC Sport dan Aykiri.

Guendouzi juga menyebutkan bahwa selama lebih dari 90 menit, termasuk saat pemanasan, suporter Lyon menghina keluarganya tanpa ada tindakan dari wasit atau pejabat pertandingan.

Gelandang berusia 27 tahun itu menegaskan bahwa situasi tersebut sangat menyakitkan baginya dan dianggapnya sebagai bentuk ketidakhormatan total.

Selain itu, Guendouzi sempat berteriak "Allez l’OM" (Ayo Marseille) ke arah suporter Lyon yang terkenal sebagai rival Marseille, klub lama tempatnya pernah bermain selama tiga musim.

Kehebohan ini disaksikan langsung oleh pemain dan staf kedua tim, termasuk rekan Guendouzi di Fenerbahce seperti Romelu Lukaku dan Ederson, kiper asal mantan Manchester City.

Dalam pertandingan tersebut, Vedat Muriqi dan Archie Brown mencetak gol bagi Fenerbahce, sementara Malick Fofana membalas untuk Lyon. Gol tambahan Lyon dari Lois Openda dan Kail Boudache dianulir karena offside.

Kekacauan dalam pertandingan ini menyoroti sisi emosional sepak bola dan rivalitas kuat antara klub Marseille dan Lyon, serta menimbulkan sorotan pada karakter dan sikap Guendouzi yang pernah menjadi pemain Arsenal dan Marseille.

Peristiwa ini juga mengingatkan pada masa lalu Guendouzi saat di Arsenal, di mana manajer Mikel Arteta menegaskan pentingnya disiplin dan karakter pemain dalam timnya, sebuah pelajaran yang kini tampak relevan dengan insiden di Lyon.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed