Operator SPBU Pertahankan Harga BBM Nonsubsidi per Juni 2026
Seluruh operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia terpantau mempertahankan struktur harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi hingga Senin (29/6/2026). Stabilnya harga jual ini mengikuti pembaruan terakhir yang dilakukan oleh Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo sejak pertengahan Juni lalu.
Dilansir dari ekonomi.bisnis.com, PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter sejak Rabu (10/6/2026). Sementara itu, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, dengan Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa hingga saat ini pihak kementerian belum menerima keluhan dari para pengusaha angkutan terkait penyesuaian harga Pertamax series tersebut.
"Sejauh ini, sih, belum ada (keluhan) yang ke saya yang menyampaikan. Jadi mungkin mereka juga sudah memperhatikan kondisi global dan sudah memperhitungkannya," kata Dudy di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Dudy menambahkan bahwa dinamika harga minyak mentah dunia saat ini memang menuntut sikap bijak dari seluruh sektor industri dan masyarakat yang terdampak.
"Tentunya pasti berdampak kalau pun ada kenaikannya. Tapi ini kan dengan kondisi yang ada sekarang ya kita harus tinggal menyikapinya saja gitu," pungkas Dudy sebagaimana dilaporkan suarasurabaya.net.
Tekanan terhadap harga komoditas dalam negeri ini juga memicu perhatian dari Bank Indonesia yang memproyeksikan adanya dampak rambatan atau imported inflation ke inflasi nasional.
"Untuk sementara hitungan kami, dampak penyesuaian harga tersebut berkontribusi sekitar 0,25 persen terhadap inflasi," kata Aida S. Budiman, Deputi Gubernur BI.
Di sisi lain, pemerintah optimistis harga BBM nonsubsidi di pasar domestik berpotensi mengalami penurunan apabila eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah terus mereda.
"Apabila kita cermati perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Namun tekanannya sudah mulai menurun. Terutama dalam satu pekan terakhir dengan adanya perdamaian, hampir damai, antara Amerika dan Iran yang peluangnya semakin terbuka. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator politinisitas dan ketahanan pasar yang mulai mereda," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menjelaskan bahwa keputusan penyesuaian harga sebelumnya terpaksa diambil untuk produk nonsubsidi demi menjaga stabilitas alokasi subsidi negara.
"Kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi. Walaupun yang bersubsidi kita pertahankan, tapi itu kan sudah menimbulkan kegaduhan. Saya yakin, dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun," ujarnya saat Rapat Kerja Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan pantauan dari metrotvnews.com di lapangan, beberapa jenis produk BBM di SPBU swasta seperti Shell Super dan Revvo 92 milik Vivo masih belum tersedia untuk konsumen.
| Operator SPBU | Jenis BBM | Harga per Liter |
|---|---|---|
| Pertamina | Pertalite | Rp10.000 |
| Pertamina | Biosolar | Rp6.800 |
| Pertamina | Pertamax (RON 92) | Rp16.250 |
| Pertamina | Pertamax Green (RON 95) | Rp17.000 |
| Pertamina | Pertamax Turbo (RON 98) | Rp20.750 |
| Pertamina | Dexlite (CN 51) | Rp23.000 |
| Pertamina | Pertamina Dex (CN 53) | Rp24.800 |
| BP-AKR | BP 92 | Rp16.670 |
| BP-AKR | BP Ultimate | Rp17.240 |
| BP-AKR | BP Ultimate Diesel | Rp26.060 |
| Shell | Shell V-Power Diesel | Rp24.490 |
| Vivo | Revvo 95 | Rp17.240 |
| Vivo | Diesel Primus | Rp25.060 |
Masyarakat diimbau untuk terus memantau pergerakan harga jual BBM nonsubsidi karena penyesuaian berkala oleh operator tetap bergantung pada fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah dunia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow