Harga Bitcoin Tembus 65 Ribu Dolar AS Mendorong Optimisme Pasar Kripto
Aset kripto Bitcoin mencatatkan lonjakan harga hingga melewati level 65.500 dolar AS atau setara Rp1,17 miliar pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026 pagi, yang dipicu oleh melandainya inflasi Amerika Serikat dan ekspektasi stabilnya suku bunga Federal Reserve.
Mengutip data CoinMarketCap, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin menyentuh angka 1,31 triliun dolar AS, seiring penguatan korelasi sebesar 73 persen antara pergerakan Bitcoin dengan indeks saham S&P 500 yang sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga acuan.
Kenaikan ini juga dibarengi oleh tren positif aset kripto berkapitalisasi besar lain seperti Ethereum yang diperdagangkan di kisaran 1.880 dolar AS, merespons kejelasan perkembangan regulasi di pasar global.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menjelaskan bahwa penguatan harga tidak hanya didorong oleh spekulasi jangka pendek, melainkan akibat matangnya fundamental industri kripto serta masuknya modal dari investor institusional.
"Pergerakan pasar kali ini menunjukkan semakin matangnya dinamika industri aset kripto, di mana pembentukan harga semakin dipengaruhi berbagai faktor fundamental, mulai dari kebijakan ekonomi, perkembangan regulasi, hingga partisipasi investor institusi," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Sentimen positif pasar semakin diperkuat oleh kemajuan pembahasan regulasi CLARITY Act di Amerika Serikat setelah kerangka etika regulasinya disetujui, memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri.
"Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Di sisi lain, data SoSoValue mencatat arus dana masuk bersih pada Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencapai sekitar 430 juta dolar AS dalam dua hari perdagangan pada 20 hingga 21 Juli.
"Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Pengamat makro menilai pergeseran minat investasi ke aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum juga dipicu oleh melambatnya lonjakan keuntungan dari saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pasar finansial global saat ini masih menunggu pengumuman resmi suku bunga Federal Reserve serta laporan keuangan kuartalan dari sejumlah perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat seperti Alphabet, Tesla, dan Intel.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow