Harga Kopi Arabika Turun 22 Persen Jelang Akhir Mei 2026

Smallest Font
Largest Font

Harga kopi dunia di pasar komoditas internasional mengalami tekanan dan ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis (28/5/2026) pagi WIB. Penurunan ini memperpanjang tren negatif komoditas Arabika yang merosot lebih dari 20 persen sepanjang tahun berjalan akibat penguatan mata uang dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan berjangka Inter Continental Exchange (ICE) yang dilansir oleh Trading Economics pada Kamis (28/5/2026), harga kopi Arabika untuk kontrak Juli ditutup turun sebesar -4,15 poin atau melemah -1,51 persen. Fluktuasi ini menempatkan posisi perdagangan kontrak berjangka Arabika berada di kisaran 2,60 dolar AS hingga 2,70 dolar AS per pon.

Kondisi serupa juga membayangi komoditas kopi Robusta ICE kontrak Juli yang ditutup menyusut sebesar -47 poin atau turun sekitar -1,34 persen. Penurunan harga secara simultan ini mempertegas lesunya tren pasar kopi global arabika robusta yang menjadi acuan para pelaku industri manufaktur makanan dan minuman di seluruh dunia.

Penurunan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat akumulasi harga kopi jatuh menjadi 271,62 USd/Kg, atau turun sebesar 0,87 persen dibandingkan hari sebelumnya. Jika dihitung dalam kurun waktu sebulan terakhir, nilai komoditas ini sudah terdepresiasi sebesar 6,56 persen.

Data Trading Economics menunjukkan bahwa koreksi pasar kali ini terasa sangat signifikan jika disandingkan dengan performa tahun lalu. Nilai perdagangan komoditas kopi tercatat anjlok sebesar 22,74 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menjauh dari rekor tertingginya.

Sebagai informasi, harga tertinggi sepanjang masa untuk komoditas kopi di bursa internasional sempat menyentuh angka 440,85 USD/LBS pada bulan Februari 2025 lalu. Rekor tersebut tercapai ketika pasar mengalami pengetatan pasokan global yang ekstrem sebelum akhirnya berbalik arah sepanjang sisa tahun hingga memasuki pertengahan 2026.

Berikut adalah pergerakan nilai historis dan performa harga kopi dunia berdasarkan pencatatan pasar berkala:

Tabel Pergerakan Harga Kopi Berjangka Internasional per Mei 2026
Indikator PasarNilai Perubahan (%)Keterangan Periode
Perubahan Harian-0,87%Per 27 Mei 2026
Perubahan Bulanan-6,56%Mei 2026
Perubahan Tahunan-22,74%Yoy terhadap 2025
Rekor Tertinggi Historis440,85 USD/LBSFebruari 2025
Rekor Terendah Historis41,50 USD/LBSPeriode 1972–2026

Faktor Penguat Dolar AS Jadi Pemicu Utama

Barchart melaporkan bahwa salah satu faktor utama yang menekan harga komoditas global, termasuk kopi, adalah penguatan mata uang asing. Nilai indeks dolar AS terpantau mengalami kenaikan sebesar $0,054 hingga mencapai level $99,155 pada penutupan pasar perdagangan tengah pekan.

Penguatan indeks dolar AS secara otomatis membuat harga komoditas yang dinilai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi para pembeli di luar negeri. Faktor makroekonomi ini menahan laju permintaan impor dari negara-negara konsumen besar di Eropa dan Asia, sehingga memicu penurunan harga di bursa berjangka.

Dampak dari penguatan mata uang dolar AS ini tidak hanya memukul sektor perkebunan kopi, melainkan juga merembet ke komoditas pangan lainnya. Kontrak gula putih London ICE untuk Agustus ditutup turun -1,63 persen, sementara Kakao ICE New York untuk kontrak Juli ikut merosot sebesar -0,70 persen.

Harga Kopi Robusta Hari Ini Terbaru | Cah Ngerong

Dampak bagi Industri dan Rantai Pasok Global

Penurunan harga di bursa berjangka New York dan London ini diperkirakan akan segera memengaruhi rantai pasok hilir. Kopi Arabika sendiri memegang peranan krusial karena menjadi patokan dunia untuk kontrak berjangka di ICE dan menyumbang hingga 75 persen dari total produksi global.

Bagi pelaku usaha, dinamika ini kerap memunculkan pertanyaan di tingkat domestik seperti "kenapa harga kopi mahal sekarang" di tingkat ritel meskipun harga mentah di bursa dunia sedang terkoreksi. Hal ini terjadi karena biaya logistik, pemanggangan, dan operasional kafe sering kali tidak langsung mengikuti pergerakan harga komoditas hulu secara instan.

Para analis pasar komoditas global memperkirakan fluktuasi masih akan terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Faktor eksternal seperti regulasi emisi Uni Eropa yang baru, dampak cuaca terhadap produksi kopi di negara produsen utama seperti Brasil dan Vietnam, hingga biaya perkapalan internasional akan menjadi penentu utama pergerakan harga ke depan.

Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Hingga saat ini, para petani lokal di berbagai sentra produksi Indonesia tetap dihimbau untuk memperhatikan standar kualitas jemur dan petik merah. Langkah tersebut dinilai krusial agar nilai tawar produk kopi domestik di tingkat pengepul maupun eksportir tetap terjaga dengan baik di tengah gejolak pasar internasional.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed