Harga Kopi Dunia Turun Menjadi 265,82 USd per Lbs pada Sabtu 20 Juni 2026
Harga kopi dunia hari ini dilaporkan melemah ke level 265,82 USd per Lbs pada Sabtu, 20 Juni 2026. Penurunan sebesar 0,74 persen dari hari sebelumnya ini dipengaruhi oleh dinamika panen periode 2025/2026 yang tengah berlangsung di sejumlah negara produsen utama.
Berdasarkan data pasar komoditas berjangka Intercontinental Exchange (ICE) yang dilansir dari Trading Economics, koreksi ini membuat performa harga kopi menyusut sebesar 0,92 persen dalam basis bulanan. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, harga komoditas ini bahkan telah merosot tajam hingga 16,60 persen.
Meskipun mengalami penurunan harian, harga instrumen finansial untuk jenis kopi Arabika masih bertahan di level 265,6900 USd per Lbs menurut pantauan IFC Markets. Bahkan sebelumnya, kekhawatiran terkait potensi penurunan hasil panen di Brasil sempat mendorong kontrak berjangka komoditas ini melonjak hingga mendekati 2,78 dolar AS per pon, yang menjadi level tertinggi sejak pertengahan Mei lalu.
Faktor Pasokan Global dan Kondisi Stok ICE
Penyebab harga kopi naik turun secara fluktuatif akhir-akhir ini tidak lepas dari kondisi pasokan global yang sangat ketat. Stok kopi Arabika yang bersertifikat di gudang ICE terpantau mengalami penyusutan drastis jika dibandingkan dengan musim sebelumnya.
Berdasarkan laporan resmi bursa berjangka, stok kopi bersertifikat saat ini berada di angka yang mengkhawatirkan bagi para pelaku industri pasar komoditas. Penurunan stok global tersebut dapat dilihat secara rinci pada perbandingan data volume berikut:
- Stok Kopi Bersertifikat ICE Saat Ini: 396.171 kantong
- Stok Kopi Bersertifikat ICE Tahun Lalu: 859.389 kantong
Penyusutan lebih dari setengah total pasokan cadangan tersebut menjadi alasan utama mengapa harga komoditas ini tetap sensitif terhadap isu cuaca buruk, termasuk kekhawatiran pasar atas "apa dampak el nino terhadap tanaman kopi" yang kerap mengancam produktivitas perkebunan di wilayah Amerika Selatan.
Pasar kopi internasional secara umum terbagi ke dalam dua varietas utama yang menguasai perdagangan global. Perbedaan kopi arabika dan robusta tidak hanya terletak pada cita rasa dan wilayah tanamnya, melainkan juga pada volume kontribusi pasokannya di bursa internasional.
Kopi Arabika memegang kendali atas mayoritas pasokan pangan global dengan mencakup sekitar 75 persen dari total produksi dunia. Adapun wilayah daerah penghasil kopi terbesar di dunia untuk varietas Arabika ini dipimpin oleh Brasil yang menyumbang 40 persen pasokan global, disusul oleh Kolombia di posisi berikutnya.
Sementara itu, varietas Robusta menyumbang sekitar 25 persen dari total produksi global. Untuk jenis ini, Vietnam menjadi produsen utama dunia dengan kontribusi sebesar 15 persen dari total pasokan global, yang kemudian diikuti oleh Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama penghasil Robusta di Asia Tenggara.
Berikut adalah tabel ringkasan struktur pasar komoditas kopi dunia berdasarkan data perdagangan internasional saat ini:
| Jenis Kopi | Pangsa Pasar Dunia | Produsen Utama (Pangsa Global) | Produsen Pendukung |
|---|---|---|---|
| Arabika | 75% | Brasil (40%) | Kolombia |
| Robusta | 25% | Vietnam (15%) | Indonesia |
Proyeksi Pasar dan Tren Harga ke Depan
Secara historis, komoditas kopi pernah mencetak harga tertinggi sepanjang masa di angka 440,85 USD/Lbs pada Februari 2025 lalu. Sebaliknya, level terendah dalam sejarah pencatatan modern dari rentang tahun 1972 hingga 2026 berada di angka 41,50 USD/Lbs.
Melihat tren pergerakan saat ini, model makro global serta ekspektasi para analis memprediksi harga kopi akan diperdagangkan di kisaran level 251,95 USD/Kg pada akhir kuartal ini. Tekanan terhadap harga diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka panjang.
Terkait prediksi harga kopi tahun depan, para analis memperkirakan harga komoditas berjangka ini akan mengalami penurunan lebih lanjut ke level 224,16 dalam kurun waktu 12 bulan mendatang seiring dengan proyeksi pemulihan distribusi pasokan dari negara-negara produsen.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Hingga saat ini, para pelaku pasar di bursa berjangka global terus mencermati realisasi volume panen riil dari Brasil dan Vietnam guna mengantisipasi volatilitas harga yang lebih besar di sisa paruh kedua tahun ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow