Harga Minyak Dunia Alami Penurunan Kuartalan Terbesar Sejak 2020 Per 1 Juli 2026
Harga minyak dunia hari ini, Rabu, 1 Juli 2026, mencatatkan tren penurunan tajam sepanjang kuartal kedua (Q2) tahun ini dengan total koreksi mencapai kisaran 30 persen. Kejatuhan performa pada penutupan kuartal ini menjadi penurunan kuartalan terbesar bagi pasar minyak mentah global sejak tahun 2020 silam.
Berdasarkan data perdagangan komoditas komparatif, pergerakan minyak wti dan brent kompak melemah menjelang pergantian bulan. Penurunan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif pasar serta perubahan laporan persediaan minyak mentah domestik di beberapa negara konsumen utama global.
Menurut data dari Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini diperdagangkan mendekati 70,2 US dolar per barel. Angka ini mencerminkan fluktuasi harian yang berada di rentang 70,03 US dolar hingga 70,08 US dolar per barel. Kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan harian sekitar 0,95 persen hingga 1,02 persen untuk jenis WTI.
Jika dikonversikan dengan kurs mata uang per 25 Juni 2026 yang berada di angka Rp17.870,90 per USD, harga WTI setara dengan Rp1.244.819 per barel. Penurunan serupa juga dialami oleh minyak mentah jenis Brent Crude yang saat ini diperdagangkan mendekati level 74 US dolar per barel. Data transaksi pasar menunjukkan Brent bergerak di kisaran 73,35 US dolar sampai 73,38 US dolar per barel pada penutupan perdagangan terkini.
Secara persentase harian, jenis Brent mengalami pelemahan sekitar 0,72 persen hingga 0,76 persen. Berdasarkan nilai tukar rupiah yang berlaku, harga satu barel minyak Brent tersebut setara dengan kisaran Rp1.303.681.
Analisis Tren Bulanan dan Historis Pasar
Meskipun terjadi pelemahan kumulatif yang signifikan dalam satu kuartal terakhir, update harga minyak bumi hari ini sejatinya masih menunjukkan angka yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Nilai komoditas energi ini tercatat masih sekitar 6,99 persen hingga 9,34 persen lebih tinggi dibandingkan posisi setahun silam.
Namun, dalam grafik performa bulanan, tren negatif tidak dapat dihindari oleh para pelaku pasar. Sepanjang satu bulan terakhir saja, harga minyak mentah dan Brent terhitung sudah mengalami penurunan berkisar antara 23,86 persen hingga 24,02 persen.
Pergerakan ini tergolong fluktuatif mengingat pada perdagangan awal pekan, 29 Juni 2026, harga minyak mentah sempat menguat ke posisi 70,17 US dolar per barel atau naik 1,36 persen. Sementara Brent juga sempat naik ke level 72,30 US dolar per barel atau terdongkrak 0,44 persen sebelum akhirnya kembali berbalik arah ke zona merah.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Faktor Utama Penyebab Harga Minyak Dunia Anjlok
Banyak pelaku pasar yang mempertanyakan kenapa harga minyak turun begitu dalam pada kuartal ini. Berdasarkan laporan data pasokan, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga adalah perubahan tingkat stok energi di wilayah Amerika Serikat selaku konsumen terbesar.
Laporan dari American Petroleum Institute (API) mengenai Perubahan Stok Minyak Mentah AS untuk bulan Juni 2026 mencatatkan angka minus 0,77 juta barel. Angka penurunan stok ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan periode pelaporan sebelumnya yang sempat menyusut hingga minus 8,33 juta barel.
Perbandingan Harga dengan Komoditas Energi Lain
Berbeda dengan minyak bumi yang tertekan, sejumlah komoditas energi lainnya justru mencatatkan performa positif pada perdagangan 30 Juni 2026. Gas Alam tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,25 persen hingga 2,37 persen ke level 3,25 US dolar sampai 3,26 US dolar.
Berikut adalah perbandingan data harga beberapa komoditas energi dan bahan baku industri pendukung lainnya pada periode perdagangan akhir Juni:
| Nama Komoditas | Harga Satuan | Persentase Perubahan |
|---|---|---|
| Gas Alam | US$ 3,25 – US$ 3,26 | +2,25% s.d +2,37% |
| Minyak Pemanas | US$ 3,24 | +1,54% s.d +1,78% |
| Bensin | US$ 2,90 | -0,03% s.d +0,13% |
| Etanol | US$ 1,88 | -0,27% s.d -1,05% |
| Batubara (29 Juni) | US$ 127,70 | +1,35% |
| Minyak Ural (29 Juni) | US$ 58,43 | +1,79% |
| Nafta (29 Juni) | US$ 684,46 | +0,35% |
| Propana (29 Juni) | US$ 0,73 | +2,23% |
| Uranium (29 Juni) | US$ 85,10 | -0,18% |
Prediksi Harga Minyak Mentah ke Depan
Melihat volatilitas pasar yang terjadi saat ini, sejumlah lembaga keuangan mulai merilis hasil pemodelan makro global terkait proyeksi harga komoditas ini. Analis pasar memperkirakan harga minyak mentah jenis WTI akan diperdagangkan di level 69,33 US dolar per barel pada penutupan kuartal berjalan. Sementara itu, ekspektasi pasar untuk minyak jenis Brent Crude diperkirakan akan menyentuh level 72,08 US dolar per barel pada akhir kuartal mendatang. Perkiraan ini dibuat dengan mempertimbangkan kondisi pasokan global serta dinamika permintaan dari negara-negara industri maju.
Untuk jangka panjang atau dalam jangka waktu 12 bulan ke depan, model makro global memproyeksikan harga minyak mentah berpotensi merangkak naik kembali menuju level 81,74 US dolar per barel. Untuk jenis Brent, harganya diperkirakan dapat mencapai level 83,57 US dolar per barel seiring dengan potensi pengetatan pasokan di masa mendatang. Sebagai catatan historis, harga minyak dunia pernah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa yang sangat kontras dengan harga saat ini. Minyak mentah WTI sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 410,45 pada Desember 2025, sedangkan Brent Crude mencatatkan rekor tertingginya senilai 147,50 pada Juli 2008 yang lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow