Houthi Hantam Target Militer Arab Saudi Pakai Puluhan Rudal dan Drone
Kelompok Houthi melancarkan operasi militer besar-besaran menggunakan puluhan rudal balistik dan drone terhadap target militer di Arab Saudi pada Senin (14/9/2026) sebagai balasan atas serangan udara Riyadh di Yaman.
Eskalasi pertempuran ini merusak ketenangan relatif pasca-gencatan senjata 2022 dan mengancam stabilitas kawasan. Aksi saling gempur tersebut berisiko menyeret kembali Yaman ke dalam perang terbuka secara penuh setelah konflik berkepanjangan selama hampir 12 tahun.
Juru bicara militer Houthi menyampaikan rincian mengenai fasilitas yang disasar dalam gelombang serangan balasan tersebut.
"Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan operasi militer berskala besar yang menargetkan instalasi dan infrastruktur militer, termasuk hanggar jet-jet tempur, radar, landasan pacu, gudang amunisi, dan target-target lainnya yang berlokasi di Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait," kata juru bicara militer Houthi, Yahya Saree.
Sebelumnya, kelompok yang bersekutu dengan Iran ini mengklaim pihak Riyadh mendahulukan agresi udara secara masif ke wilayah-wilayah pertahanan mereka.
"Musuh kriminal Saudi telah melancarkan 58 serangan udara dalam 24 jam terakhir," kata Yahya Saree.
Stasiun televisi Almasirah melaporkan jet tempur Saudi membombardir wilayah Saada, distrik perbatasan Monabbih, serta sebuah pasar di Provinsi Al-Jawf. Secara keseluruhan, Houthi mengklaim diserang lebih dari 100 kali sejak Selasa (8/9/2026), meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Kerajaan Arab Saudi.
Rangkaian serangan udara besar Pekan lalu juga menyebabkan kebakaran di berbagai fasilitas minyak Saudi serta mencederai sedikitnya 73 warga sipil. Komunitas internasional langsung memberikan respons tegas atas melonjaknya intensitas bentrokan ini.
Pemerintah China melalui juru bicaranya menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap situasi keamanan yang kian memburuk di Laut Merah.
"China sangat prihatin atas jatuhnya korban di kalangan warga sipil yang tidak bersalah serta kerusakan pada fasilitas energi dan infrastruktur sipil lainnya akibat eskalasi terbaru di Yaman dan Laut Merah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Beijing menegaskan perlunya penyelesaian krisis melalui jalur perundingan dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
"Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati, dan satu-satunya jalan keluar adalah menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik," kata Guo Jiakun.
Selain serangan jarak jauh ke Arab Saudi, pertempuran darat di Yaman memuncak setelah Houthi merebut pesisir Laut Merah, kota pelabuhan Mocha, hingga Pulau Mayun. Keberhasilan ini memperketat kontrol Houthi atas Selat Bab al-Mandeb yang merupakan rute vital ekspor minyak. Pasukan Perlawanan Nasional Pemerintah Yaman melaporkan lebih dari 500 prajuritnya tewas dan 1.500 lainnya terluka sejak 9 Agustus hingga 10 September 2026, sementara korban tewas dari pihak Houthi diklaim mencapai lebih dari 1.000 jiwa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow