Kelompok Houthi Rebut Pelabuhan Mocha dan Perluas Akses Laut Merah

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi konflik di Yaman semakin memanas setelah kelompok Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mocha di dekat Selat Bab al-Mandeb pada Kamis (10/9/2026). Penguasaan wilayah pesisir ini memperkuat cengkeraman kelompok pro-Iran tersebut di jalur pelayaran Laut Merah.

Keberhasilan Houthi menguasai Mocha menjadi pukulan berat bagi pemerintah Yaman yang mendapat dukungan dari Arab Saudi. Posisi pelabuhan ini berjarak sangat dekat dengan Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudera Hindia.

Analis pertahanan Wolfgang Pusztai memberikan penilaian terkait implikasi strategis dari jatuhnya pelabuhan tersebut ke tangan kelompok Houthi.

"Jika mereka menguasai Mocha, mereka akan mengendalikan hampir seluruh pantai Yaman di Laut Merah. Itu berarti akan lebih mudah untuk mengendalikan Bab al-Mandeb," kata Wolfgang Pusztai, analis pertahanan.

Pusztai menjelaskan bahwa Selat Bab al-Mandeb memiliki lebar sekitar 20 kilometer, jauh lebih sempit dibandingkan Selat Hormuz yang mencapai 50 kilometer. Kondisi geografis ini memberikan keuntungan taktis yang signifikan bagi kelompok Houthi dalam memantau lalu lintas maritim internasional.

"Ini berarti mereka dapat mengendalikannya hanya dengan artileri. Mereka bahkan tidak perlu menggunakan rudal atau drone untuk menyerang kapal. Ini tentu akan menjadi pukulan besar bagi pelayaran Arab Saudi dan pelayaran internasional," ujar Wolfgang Pusztai.

Konflik ini meluas setelah Houthi melancarkan serangan ke fasilitas energi Saudi Aramco di empat kota bagian selatan Arab Saudi. Serangan tersebut melukai lebih dari 70 orang dan mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal asal Arab Saudi di Laut Merah.

Aksi militer tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh level tertinggi dalam enam pekan pada Selasa (8/9/2026). Minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh US$99 per barel sebelum ditutup di US$97,92, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke level US$93,03 per barel.

Di tengah tekanan global, bursa saham Amerika Serikat dan Asia mengalami penurunan. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia justru menguat 1,01 persen ke level 6.686,44 dan nilai tukar rupiah menguat tipis ke posisi Rp17.593,9 per dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed