Hujan Ekstrem di Chiba Jepang Bikin 6 Orang Tewas
Hujan deras ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor di Prefektur Chiba, Jepang timur sejak Kamis (13/8/2026) malam, menewaskan sedikitnya enam orang dan menyebabkan sekitar 6.000 penumpang terdampar di Bandara Narita.
Otoritas setempat dan Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan bahaya tingkat tertinggi atau Level 5. Tingginya curah hujan di Distrik Chuo, Chiba, sempat menembus 115 milimeter per jam, yang setara dengan akumulasi curah hujan selama satu bulan penuh pada Agustus normal.
Kantor Manajemen Bencana Prefektur Chiba mengonfirmasi penemuan para korban tewas di beberapa titik. Salah satu korban merupakan pria lansia yang ditemukan mengapung di jalan, sementara seorang wanita berusia 66 tahun meninggal dunia usai terjebak di dalam mobil yang terendam air di Kota Sakura.
Dua korban tewas lainnya ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di jalanan tergenang, sedangkan identitas dua korban jiwa tambahan yang dilaporkan stasiun penyiaran NHK masih dalam proses pendataan oleh pihak kepolisian.
Dampak cuaca ekstrem ini turut melumpuhkan infrastruktur dasar di kawasan permukiman dan pusat transportasi. Pemadaman listrik melanda sekitar 26.000 hingga 45.000 rumah tangga, sementara puluhan rumah di Ichikawa, Kashiwa, dan Sakura terendam banjir hingga mengalami rembesan air bawah lantai.
Perintah evakuasi resmi dikeluarkan bagi lebih dari 400.000 warga di Prefektur Chiba dan Ibaraki. Pemerintah setempat telah membuka sedikitnya 200 titik penampungan darurat untuk menampung warga yang terdampak banjir maupun pemadaman listrik.
Sektor transportasi mengalami gangguan parah setelah pembatalan massal perjalanan kereta api dari dan menuju Tokyo. Di Bandara Narita, ribuan calon penumpang terpaksa menginap di terminal beralaskan kantong tidur dan mengantre bantuan logistik darurat dari petugas.
Anomali cuaca ini dipicu oleh pertemuan aliran udara hangat dan lembap dari wilayah timur Jepang dengan lapisan udara dingin di atmosfer atas. Kejadian ini berlangsung hanya sehari setelah badai tropis melintasi wilayah timur laut Jepang yang melukai tujuh orang.
Seorang pejabat JMA memberikan penjelasannya terkait intensitas curah hujan tinggi tersebut dalam konferensi pers darurat.
"Ini berpotensi menjadi curah hujan lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata pejabat JMA.
Situasi mendadak di lapangan turut disampaikan oleh Takuya Hosomi dari lembaga yang sama.
"Wilayah tersebut mengalami curah hujan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Takuya Hosomi, Pejabat JMA.
Di area bandara, para penumpang terpaksa menyesuaikan diri dengan kondisi darurat di tengah ketidakpastian penerbangan.
"Saya tidak pernah berpikir akan menghabiskan malam di bandara, tetapi begitulah adanya dan kami sedang belajar," kata seorang penumpang pesawat.
Penumpang tersebut menambahkan kesannya atas situasi yang dialaminya.
"Kami tidak akan pernah melupakan perjalanan ini," kata penumpang pesawat.
Seorang wisatawan asing bernama Philip menceritakan perjuangannya untuk mencapai area terminal penerbangan.
"Saya harus menempuh perjalanan selama sembilan jam, termasuk naik taksi, sebelum akhirnya tiba di bandara Narita pada Jumat pagi," ujar Philip, Turis asal Inggris.
Dampak ekonomi dan kekhawatiran operasional usaha warga lokal diutarakan oleh seorang pemilik bisnis di Kota Ichikawa.
"Ini terjadi tiba-tiba, jadi ini benar-benar mengejutkan. Listrik padam, jadi saya khawatir apakah saya dapat membuka usaha bisnis saya dalam beberapa hari ke depan," kata seorang wanita warga Ichikawa.
Kepanikan serta rasa tidak aman di tengah banjir juga dirasakan warga yang berusaha mencari tempat perlindungan.
"Kaki saya basah kuyup hingga sebatas lutut. Minimarket dan pos polisi mengalami pemadaman listrik. Saya merasa tidak aman," ujar seorang wanita berusia 34 tahun.
Ia melanjutkan keterangannya mengenai kondisi genangan air di lokasi penampungan.
"Sebenarnya saya ingin menghindari bermalam di sini, tetapi saya harus menunggu hujan reda dan air surut. Saya belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya," kata wanita berusia 34 tahun tersebut.
Hingga Jumat sore, petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat masih terus menindaklanjuti laporan warga yang terjebak di dalam kendaraan serta mengawasi potensi tanah longsor susulan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow