BRIN Minta Penambahan Sensor Tsunami di Kawasan Krakatau
Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai satu unit sensor pendeteksi dini tsunami di kawasan Gunung Anak Krakatau tidak memadai untuk pemantauan bencana secara optimal, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Senin (14/9/2026).
Perangkat IDSL/PUMMA yang terpasang di Pulau Rakata menjadi tumpuan utama dalam mengawasi aktivitas vulkanik selama 24 jam. Namun, keandalan sistem pemantauan dinilai rawan lumpuh ketika terjadi peningkatan erupsi material vulkanik yang mengganggu proses akuisisi data.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr Semeidi Husrin, menjelaskan kendala teknis sempat terjadi saat aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat.
"Jadi kami mengalami beberapa kendala terkait dengan akusisi data. Jadi kami menemukan tiap data beberapa menit ini. Ini tentu saja sebetulnya menjadi evaluasi tersendiri buat kami, sementara karena IDSL/PUMMA yang dapat mendeteksi tsunami secara dini ini hanya satu di Krakatau ini," ujar Semeidi Husrin.
Keterbatasan alat tunggal tersebut dinilai dapat memicu risiko keterlambatan informasi mitigasi bencana apabila terjadi kerusakan perangkat di lapangan.
"Ini hanya satu. Jadi ini mencetakkan tersendiri jika ada kendala-kendala seperti ini, ini membuktikan bahwa satu unit itu sangat kurang," kata Semeidi Husrin.
Guna menjaga kesinambungan pemantauan, penambahan unit pendeteksi tsunami cadangan menjadi kebutuhan mendesak.
"Jadi ke depan memang perlu ditambah yang keberadaan atau jumlah yang cukup dari IDSL/PUMMA ini, agar kondisi seperti ini bisa ditutupi oleh alat kedua, ketiga, dan seterusnya," sebut Semeidi Husrin.
BRIN mengusulkan penempatan ideal sebanyak enam unit IDSL/PUMMA yang tersebar merata di tiga pulau sekitar kompleks Gunung Anak Krakatau.
"Keberadaan satu unit di IDSL/PUMMA di (Pulau) Rakata masih sangat kurang, oleh karena itu diperlukan jumlah unit tambahan, IDSL/PUMMA yang memadai, jadi setidaknya diperlukan 6 unit di sana, di setiap pulau yang mengelilingi, jadi ada Pulau Sertung 2 (unit), Pulau Panjang 2, Pulau Rakata 2," rincinya.
Selain menambah jumlah alat, perawatan berkala serta integrasi dengan kamera pengawas dan sensor cuaca juga krusial untuk mendukung analisis data bencana secara akurat.
"Tentu saja yang paling penting adalah perawatan, jadi memastikan seluruh sistem berfungsi dengan baik, termasuk CCTV, sensor cuaca juga sangat penting," katanya.
Sistem pemantauan multidisiplin ini diperlukan untuk mendeteksi ancaman gelombang tsunami dari berbagai sumber bahaya di wilayah perairan Selat Sunda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow