IHSG Anjlok 206 Poin Akibat Serangan Iran dan Lonjakan Dolar AS
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok hari ini sebesar 206 poin atau melemah 3,48 persen ke level 5.734 pada sesi I perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Kejatuhan dramatis bursa domestik ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan ancaman perang dagang global baru.
Kondisi pasar modal yang memburuk tersebut diperparah oleh nilai tukar rupiah yang terus merosot tajam. Berdasarkan data perdagangan sore hari, mata uang rupiah ditutup melemah 82 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sempat menyentuh level terendahnya di posisi Rp18.049 per dolar AS.
Menurut rilis riset Pilarmas Investindo Sekuritas pada Kamis, 4 Juni 2026, terdapat dua faktor utama yang menjadi penyebab rupiah melemah sekaligus merontokkan stabilitas pasar modal dalam negeri saat ini.
Sentimen negatif pertama datang dari serangan mendadak militer Iran yang menyasar Bandara Internasional Kuwait. Aksi tersebut langsung memicu kekhawatiran ekonomi global terkait pasokan energi dunia dan stabilitas keamanan di jalur perdagangan internasional.
Faktor kedua adalah kebijakan proteksionisme perdagangan dari negara barat. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana pengenaan tarif tambahan hingga sebesar 12,5 persen terhadap produk impor dari 60 negara mitra dagang mereka.
Kombinasi dampak geopolitik terhadap ekonomi dan ketegangan dagang ini memicu aksi jual masif oleh para investor yang memilih mengamankan aset mereka ke instrumen yang lebih aman.
Penurunan tajam pasar saham Indonesia meluas ke berbagai sektor industri utama di Bursa Efek Indonesia. Para pelaku pasar modal menunjukkan kepanikan tinggi menghadapi ketidakpastian kondisi makroekonomi global yang berkembang sangat cepat.
Perbandingan Pelemahan Mata Uang Regional
Tekanan berat terhadap nilai tukar rupah sebenarnya telah terakumulasi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Sepanjang tahun berjalan ini, nilai tukar mata uang rupiah tercatat sudah mengalami pelemahan sebesar 3,65 persen.
Kendati demikian, otoritas moneter mencatat bahwa pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia dan Amerika Latin.
Berikut adalah data perbandingan tingkat pelemahan mata uang beberapa negara berkembang terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan:
| Negara | Mata Uang | Tingkat Pelemahan (YTD) |
|---|---|---|
| Filipina | Peso | 6,58% |
| Thailand | Baht | 5,04% |
| India | Rupee | 4,32% |
| Chile | Peso | 4,24% |
| Indonesia | Rupiah | 3,65% |
| Korea Selatan | Won | 2,29% |
Respon Pemerintah dan Otoritas Moneter
Menyikapi situasi darurat ini, jajaran menteri ekonomi dan otoritas keuangan Indonesia langsung menggelar pertemuan cepat di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Rapat koordinasi tingkat tinggi ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting negara.
Kementerian dan lembaga yang hadir dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
- Menteri Investasi Rosan Roeslani
- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi
Rapat tersebut berfokus pada perumusan langkah-langkah darurat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik dan menahan laju depresiasi rupiah agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.
Guna meredam gejolak yang terjadi, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan pihaknya akan mengambil langkah taktis di pasar keuangan. Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi secara terukur di pasar valuta asing serta melakukan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas tetap aman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow