IHSG Menguat ke Level 6.630 di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global dan Domestik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Kamis pagi (3/9/2026) ke level 6.630,476, naik 0,53 persen dari pembukaan yang sudah menunjukkan kenaikan ke level 6.632,828.
Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang masih menunggu sejumlah data ekonomi domestik dan global serta memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan IHSG akan berkonsolidasi di kisaran 6.450 hingga 6.570, dengan sentimen utama datang dari data inflasi Indonesia yang diperkirakan naik menjadi 0,2 persen month to month pada Agustus 2026, dari deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.
Menurut Ratna Lim, "Diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570 pada perdagangan Selasa."
Data inflasi tahunan diperkirakan naik ke 3,13 persen year on year pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88 persen pada Juli 2026. Inflasi inti juga diproyeksikan naik menjadi 2,8 persen year on year dari 2,76 persen sebelumnya.
Selain itu, neraca perdagangan Juli 2026 diperkirakan mengalami defisit sebesar 0,3 miliar dolar AS, membaik dari defisit 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026, dengan pertumbuhan impor diperkirakan masih lebih tinggi dari ekspor.
Dari pasar global, investor menantikan data manufaktur PMI dari China yang diperkirakan naik ke 51 pada Agustus 2026 serta indeks kepercayaan konsumen Jepang yang sedikit naik ke 35.
Dari Amerika Serikat, indeks ISM Manufacturing PMI diperkirakan turun sedikit ke 55,2 pada Agustus 2026, dan data lowongan pekerjaan diperkirakan sebesar 7,3 juta pada Juli 2026.
Sentimen negatif datang dari serangan militer AS terhadap Iran yang memicu kenaikan harga minyak, berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. The Fed AS juga mengisyaratkan fokus pada penurunan inflasi dengan kemungkinan menaikkan suku bunga pada September 2026.
Di sisi lain, pelaku pasar mencermati pertemuan G20 di Carolina Utara dan rilis data tenaga kerja AS yang akan diumumkan pada Jumat (4/9/2026).
Pasar saham global menunjukkan pergerakan variatif, dengan bursa Asia pagi ini umumnya menguat setelah Wall Street bangkit dari koreksi tiga hari, didorong oleh penguatan saham teknologi, terutama Nvidia.
Nilai tukar rupiah pagi ini melemah tipis 0,08 persen ke Rp17.765 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di Rp17.750.
Jumlah saham yang naik tercatat sebanyak 337, turun 185, dan stagnan 204 saham di pasar Indonesia pagi ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow