IHSG Berpeluang Menguat Terbatas di Tengah Volatilitas Global

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan terbatas namun rawan terkoreksi pada perdagangan Senin (13/7) akibat pengaruh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Pergerakan indeks saham terindikasi masih tertahan setelah ditutup menguat tipis 0,20 persen ke level 5.942 atau 5.924,36 pada akhir pekan lalu dengan nilai transaksi mencapai Rp8,85 triliun.

Kondisi pasar modal dalam negeri saat ini sedang diwarnai sikap wait and see dari para pelaku pasar. Berdasarkan laporan insight.kontan.co.id, investor domestik masih menantikan hasil pertemuan krusial antara pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) dan S&P Dow Jones Indices (DJI) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

"Kami memperkirakan IHSG berpotensi menguat menguji area 6.083-6.203, namun tetap cermati peluang koreksi ke kisaran 5.752-5.797," ujar Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas.

Herditya memaparkan bahwa pergerakan indeks hari ini akan berada pada rentang support 5.486 dan 5.317, serta posisi resistance di level 6.007 dan 6.286. Perusahaan sekuritas tersebut menyodorkan sejumlah saham pilihan untuk dicermati investor seperti ARCI, BMRI, MINA, dan TAPG.

"Jika berhasil melewati 5.965, IHSG berpotensi menguat menuju area 6.051-6.083. Namun jika gagal menembus level tersebut, indeks diperkirakan terkoreksi ke 5.797," ujar Ivan Rosanova, Analis Binaartha Sekuritas.

Ivan memprediksi rentang pergerakan indeks hari ini akan menguji titik support pada level 5.871, 5.739, 5.607, serta 5.472, dengan target resistance di angka 6.083, 6.256, 6.545, dan 6.835. Adapun rekomendasi saham yang diberikan meliputi AMRT, ANTM, BUMI, dan EMTK.

"Sehingga penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental," kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor dalam keterangan tertulis yang dilansir money.kompas.com.

Hendra menjelaskan bahwa tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz serta penantian data inflasi AS menjadi penentu utama pergerakan dana asing. Kendati rupiah melemah dan aksi jual asing berlanjut, pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen dan stabilitas perbankan menjadi penopang utama bursa domestik.

"Oleh karena itu, volatilitas IHSG dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global serta perkembangan situasi geopolitik," terang Hendra.

Untuk menyiasati pasar yang terkonsolidasi, sektor defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi dinilai lebih aman. Sementara itu, komoditas energi seperti saham ADRO, PGEO, PGAS, dan TINS berpotensi mencetak performa unggul jika harga komoditas terkerek naik.

"Tidak terlalu agresif meningkatkan porsi investasi hingga arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik menjadi lebih jelas," tutup Hendra.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed