IHSG Anjlok ke 6.497 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hingga menyentuh level 6.497,36 pada perdagangan Jumat (11/9/2026) pukul 11.00 WIB. Anjloknya bursa domestik dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik Timur Tengah serta ketakutan pasar atas potensi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve.
Pergerakan indeks saham domestik sempat dibuka melemah ke posisi 6.552,79 sebelum melorot hampir 2 persen ke level terendah harian di 6.462,96. Tekanan ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan Kamis (10/9/2026), saat IHSG ditutup merosot 1,29 persen atau 86,30 poin ke posisi 6.591,90 dengan catatan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp1,95 triliun di seluruh pasar.
Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan serangan terhadap tanker minyak di Selat Hormuz mengerek harga minyak mentah jenis Brent menembus US$107 hingga US$109 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke atas US$102 per barel. Selain itu, rilis data Producer Price Index (PPI) AS bulan Agustus 2026 yang naik 0,4 persen secara bulanan mendorong lonjakan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke level 4,95 persen.
Analis pasar modal mencermati dinamika teknikal dan dampak makroekonomi dari lonjakan harga energi global tersebut terhadap pergerakan bursa serta kondisi fiskal dalam negeri.
"Dipicu eskalasi AS-Iran, serangan ke tanker minyak Iran, rudal ke Yordania, serangan Houthi ke fasilitas energi Arab Saudi," tulis Riset BRI Danareksa Sekuritas.
Lembaga riset tersebut menambahkan bahwa lonjakan harga energi secara langsung menaikkan ekspektasi inflasi global.
"Pasar price-in ekspektasi Fed hawkish akibat tekanan inflasi dari lonjakan harga energi, sehingga saham dan emas tertekan bersamaan meski minyak justru melesat akibat risiko geopolitik," terangnya.
Pihak MNC Sekuritas juga memproyeksikan pergerakan indeks masih berada dalam fase penurunan berlanjut.
"Dari sisi teknikal, seperti yang kami sampaikan pada Daily Scope Wave, posisi pergerakan IHSG sedang berada di fase downtrendnya dan telah mencapai target koreksi di 6.502, cermati area koreksi berikutnya di 6.448," tulis riset MNC Sekuritas.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memaparkan level krusial teknikal yang perlu diwaspadai pelaku pasar.
"Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menguji 6.673-6.723, dengan resistance berikutnya 6.859. Sebaliknya, jika breakdown di bawah 6.520, koreksi berpotensi menuju 6.420, dengan support berikutnya 6.377," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata.
Liza mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang melampaui asumsi dasar APBN sebesar US$90 per barel bakal memperbesar beban kompensasi dan subsidi energi nasional.
"Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dalam jangka lebih panjang sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara," ujar Liza.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 September 2026 kini melonjak hingga 73 persen. Pelemahannya bursa saham Indonesia juga sejalan dengan jatuhnya indeks bursa global, seperti Dow Jones yang melemah 0,60 persen, Nikkei Jepang yang anjlok 2,68 persen, serta Hang Seng Hong Kong yang terpuruk 1,36 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow