IHSG Merosot ke Level 6191 Setelah Sempat Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia merosot 1,02 persen atau kehilangan 63,51 poin ke level 6.191,46 pada penutupan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026 pukul 14.53 WIB.
Koreksi tajam ini terjadi pasca-indeks sempat dibuka menguat ke level 6.321,57 pada pagi hari di tengah sikap menunggu pelaku pasar terhadap pengumuman suku bunga acuan domestik dan global.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 422 saham mencatat penurunan, 279 saham bergerak naik, dan 258 saham stagnan dengan total nilai transaksi menyentuh angka Rp19,69 triliun dari 25,54 miliar saham yang ditransaksikan.
Penurunan indeks pada akhir sesi pertama ini memangkas reli penguatan sebesar 17,09 persen yang sempat dibukukan bursa selama lima hari perdagangan terakhir sejak menyentuh titik nadir pada 8 Juni 2026.
Meskipun demikian, Bank Dunia tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,0 persen pada 2026 dan naik menjadi 5,2 persen pada periode 2027 hingga 2028 berkat kuatnya konsumsi rumah tangga serta investasi.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengimbau para pelaku pasar untuk tetap cermat dalam mencermati titik-titik balik krusial indeks sebelum melakukan aksi beli bertahap.
"Kiwoom Research sarankan sebaiknya tunggu break out level penting 6.300 sebelum memutuskan average up. Ingat bahwa kita masih ada beberapa event penting di pekan ini yang berpotensi timbulkan goncangan pasar (RDG BI, serta keputusan MSCI dan FTSE Russell)," ujar Liza dilansir dari Antara.
Liza menambahkan bahwa dinamika portofolio investor global saat ini mulai dialihkan menuju sektor yang lebih defensif seperti perbankan dan material, sembari memangkas porsi kepemilikan pada saham teknologi global dari 33 persen menjadi 26 persen.
"Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat. Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai," ujarnya.
Faktor eksternal lain yang memengaruhi pasar adalah penurunan harga minyak dunia menjelang penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026.
Di dalam negeri, pasar masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diproyeksikan bakal menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, serta rencana penerbitan Panda Bonds pada akhir Juni atau awal Juli 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow