Investor Asing Catat Net Buy Saham BUMI di Tengah Tekanan IHSG

Smallest Font
Largest Font

Perdagangan saham oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5) berbalik ke zona hijau dengan mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar 1,41 miliar lembar saham. Peningkatan ini ditopang oleh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menjadi buruan utama asing dengan torehan net buy mencapai 370,26 juta lembar.

Kondisi tersebut membalikkan posisi hari bursa sebelumnya pada Senin (18/5), saat transaksi investor asing ditutup dengan penjualan bersih atau net sell sekitar 81,29 juta lembar. Dilansir dari idnfinancials.com, volume pembelian asing melonjak dari 6,43 miliar menjadi 9,72 miliar lembar, sementara volume penjualan asing naik dari 6,52 miliar menjadi 8,30 miliar lembar.

Meskipun mencatat net buy terbesar dari asing, harga saham BUMI justru mengalami tekanan hebat sepanjang perdagangan hari Selasa. Berdasarkan data RTI yang dilansir dari Liputan6.com melalui koranmanado.co.id, saham emiten batu bara ini anjlok hingga 9,22 persen ke level Rp 187 per saham pada penutupan sesi pertama setelah sempat dibuka menguat ke posisi Rp 208.

Tekanan jual masif ini sempat membuat saham BUMI menyentuh level terendah harian di Rp 181 dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,1 triliun. Penurunan tajam tersebut berjalan selaras dengan Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) yang ditutup anjlok 3,08 persen ke level 6.396,2 pada akhir sesi pertama akibat pelemahan di seluruh sektor saham.

Sebelum pergerakan harga saham BUMI berbalik arah memutus batas bawah, tim analis sekuritas telah mengeluarkan proyeksi teknikal harian bagi para pelaku pasar di bursa efek.

"BUMI spec buy dengan area beli di 202-206, cutloss di bawah 200. Target dekat di 210-214," tulis BNI Sekuritas pada perdagangan, Selasa (19/5/2026).

Rekomendasi tertulis yang dirilis oleh Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman tersebut dilansir dari Investor Daily melalui laporan mediakompeten.co.id, koranmanado.co.id, dan pojokpapua.id. Laporan tersebut juga menyarankan para investor segera melakukan pembatasan risiko secara disiplin apabila harga bergerak melampaui batas psikologis di bawah Rp 200.

Sementara itu, penurunan indeks secara keseluruhan dipicu oleh sejumlah faktor makroekonomi yang menekan pasar domestik. Dilansir dari asatunews.co.id melalui pojokpapua.id, BRI Danareksa Sekuritas merinci katalis negatif tersebut meliputi terpuruknya nilai tukar rupiah ke atas Rp 17.700 per dolar AS, sentimen pengeluaran saham dari indeks MSCI, penundaan status pasar oleh FTSE Russell, serta ketegangan global antara AS dan Iran.

Selain BUMI, beberapa emiten lain juga mencatat volume transaksi asing yang signifikan di pasar reguler. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguntit di posisi kedua net buy asing terbesar dengan 211,56 juta lembar, diikuti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan net buy hampir 180 juta lembar.

Sebaliknya, aksi pelepasan saham oleh investor asing terbesar melanda PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan net sell mencapai 114,86 juta lembar. Posisi net sell terbesar berikutnya ditempati oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan 103,88 juta lembar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 50,82 juta lembar.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed