Investor Asing Memburu Saham BUMI di Tengah Penurunan IHSG

Smallest Font
Largest Font

Investor asing gencar memburu saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam dua pekan terakhir perdagangan Bursa Efek Indonesia hingga mencatatkan kenaikan harga yang signifikan di tengah tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan.

Pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, saham emiten pertambangan milik Grup Bakrie dan Salim ini melonjak 12,14 persen ke level Rp 157 per saham. Sebanyak 6,63 miliar lembar saham BUMI ditransaksikan dengan frekuensi 96.594 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 1,03 triliun.

Sepanjang periode perdagangan 8 sampai 12 Juni 2026, saham BUMI mencetak aksi beli bersih oleh investor asing senilai Rp 40,71 miar dengan lonjakan harga kumulatif sebesar 12,95 persen. Aksi borong ini melanjutkan tren pekan sebelumnya, 2 hingga 5 Juni 2026, saat investor asing membukukan net buy sebesar Rp 266,64 miliar ketika harga saham sedang melorot 17,26 persen.

Kondisi pada awal Juni tersebut berbanding terbalik dengan periode 25 sampai 29 Mei 2026, ketika saham berkode BUMI mencatatkan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 219,64 miar. Di sisi lain, jumlah pemegang saham BUMI per akhir Mei 2026 membubung sebanyak 11.298 pihak menjadi 590.547 investor dari bulan sebelumnya yang hanya 579.249 investor, diikuti kenaikan porsi saham free float menjadi 43,06 persen dari 37,77 persen.

Aksi borong oleh investor asing ini juga terpantau sejak perdagangan Senin, 8 Juni 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan ditutup ambrol 4,52 persen atau turun 252 poin ke level 5.342,13 berdasarkan data RTI Infokom. Penerima manfaat akhir dari Bumi Resources saat ini tercatat masih berada di tangan Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthony Salim.

Dari sisi kinerja fundamental, emiten ini tengah menyiapkan berbagai proyek strategis non-batu bara untuk bertransformasi menjadi perusahaan tambang multi-platform. Analis Panin Sekuritas Cliff Nathaniel menilai pasar mulai memberikan perhatian lebih besar pada aset non-batu bara perseroan karena beberapa proyek sudah memasuki tahap yang lebih matang, seperti proyek Wolfram Limited di Queensland, Australia, yang ditargetkan mulai menambang pada April 2026 dan berproduksi komersial pada Mei hingga Juli 2026.

Proyek Wolfram telah mengamankan kontrak penjualan jangka panjang selama tujuh tahun dengan Glencore untuk seluruh hasil output tambang Mt. Carlton. Cliff Nathaniel menilai keberadaan kontrak tersebut memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap prospek pendapatan masa depan proyek tersebut.

"Ini penting karena BUMI tidak hanya masuk aset non-coal, tetapi sudah memiliki jalur pemasaran jelas untuk output produksinya," tegas Cliff Nathaniel, Analis Panin Sekuritas.

Selain proyek Wolfram, perseroan memiliki eksposur pada Jubilee Metals Limited yang ditargetkan berproduksi pada kuartal IV tahun 2026, serta tengah menyelesaikan akuisisi 45 persen saham PT Laman Mining yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026. Bisnis batu bara perseroan sendiri tetap kokoh dengan capaian pendapatan kuartal I tahun 2026 yang tumbuh 19,7 persen menjadi 417,7 juta dolar AS, memicu kenaikan laba bersih 36,6 persen menjadi 41,1 juta dolar AS.

"Bisnis batu baranya masih kuat, efisiensi operasional membaik, sementara aset non-coal mulai masuk fase konkret. Jika Wolfram, JML, dan Laman Mining mulai berkontribusi signifikan, target EBITDA 50:50 bisa saja tercapai lebih cepat," urai Cliff Nathaniel.

Kinerja operasional pengangkutan batu bara juga membaik dengan produksi mencapai 19,2 juta ton dan penjualan 19,1 juta ton, sementara rasio pengupasan tanah turun dari 8,4 kali menjadi 7,7 kali. Depresiasi mata uang rupiah turut memberikan keuntungan alami bagi emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS ini dalam memenuhi kewajiban finansial domestiknya.

"Untuk emiten dengan earnings USD, pelemahan rupiah bisa menjadi natural hedge ketika ada kewajiban rupiah. Kalau arus kas USD BUMI tetap kuat, kemampuan perseroan memenuhi kewajiban rupiah berpotensi lebih terjaga," ujar Cliff Nathaniel.

Sementara itu, anak usaha perseroan yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga terus berupaya menggenjot kapasitas produksinya melalui berbagai pengembangan proyek baru. Analis Ajaib Sekuritas Asia Rizal Rafly mengamati adanya kemajuan operasional yang berkelanjutan di kawasan tambang PT Citra Palu Mineral yang tersebar di seluruh area pengembangan utama sebagai aset inti penopang pertumbuhan jangka pendek.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed