Israel Perluas Operasi Militer di Lebanon Selatan saat Dialog Keamanan
Militer Israel memperluas operasi darat dengan menyeberangi Sungai Litani di Lebanon selatan pada Jumat (29/5/2026) waktu setempat. Langkah agresif ini tetap dilakukan di tengah berlangsungnya dialog keamanan bersejarah antara delegasi militer Israel dan Lebanon di Washington, Amerika Serikat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi eskalasi tersebut saat mengunjungi pasukan di dekat perbatasan. Pasukan Israel dilaporkan telah mencapai pinggiran kota Debbine serta wilayah Marjayoun, didukung pengeboman besar-besaran yang menghantam lebih dari 20 lokasi di Lebanon selatan.
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan serangan udara tersebut memicu gelombang pengungsian baru setelah adanya perintah evakuasi untuk delapan kota. Di Washington, delegasi militer Lebanon yang dipimpin Direktur Operasi Angkatan Darat Georges Rizkallah tetap membawa misi menegakkan otoritas pemerintah, sementara delegasi Israel dipimpin Brigadir Jenderal Amichai Levin.
"Pasukan kami telah menyeberangi Litani," ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menambahkan bahwa militer Israel kini beroperasi di Beirut, Bekaa, dan seluruh lini depan untuk menyerang Hizbullah secara langsung. Namun, kelompok Hizbullah secara tegas menentang pembicaraan tersebut dan menolak melucuti senjata mereka.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 3.355 orang tewas dan 10.095 luka-luka sejak konflik pecah pada 2 Maret 2026. Gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 17 April tidak pernah dipatuhi karena kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Badan anak-anak PBB (UNICEF) melaporkan krisis kemanusiaan yang akut, di mana 15 anak tewas dan 62 lainnya terluka dalam sepekan terakhir. Juru bicara UNICEF Ricardo Pires menyatakan sebagian besar anak-anak terdampak oleh serangan udara di Lebanon selatan.
"Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, 77 anak dilaporkan tewas atau terluka hanya dalam seminggu terakhir," kata Juru Bicara UNICEF Ricardo Pires.
Pires menjelaskan bahwa total 55 anak telah tewas dan 212 luka-luka sejak gencatan senjata diumumkan. Serangan udara juga terus dilaporkan melukai warga sipil yang berupaya melarikan diri dari zona evakuasi.
"Lima belas anak tewas dan 62 luka-luka dalam tujuh hari. Itu rata-rata 11 anak setiap 24 jam. Kami memahami bahwa sebagian besar anak-anak ini terdampak oleh serangan udara di Lebanon selatan. Baru kemarin, tujuh anak tewas dan 30 luka-luka," kata Ricardo Pires.
Pires kemudian mendesak kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional demi keselamatan warga sipil. Ia menekankan perlunya komitmen penuh untuk menghentikan kekerasan yang mengorbankan kelompok rentan.
"anak-anak dan infrastruktur sipil harus dilindungi setiap saat," kata Ricardo Pires.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan serangan Israel di Kegubernuran Nabatieh merusak jalan utama di Distrik Marjayoun yang krusial bagi evakuasi medis. OCHA juga melaporkan serangan terpisah menewaskan delapan orang di Maarakah serta tiga orang di kamp pengungsi Al Buss.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Lebanon Imran Riza menyampaikan keprihatinan mendalam atas intensitas pertempuran yang terus meningkat. Tempat penampungan di Kota Tyre dilaporkan telah mencapai kapasitas maksimal, memaksa keluarga pengungsi tidur di mobil dan tenda.
"Meski menghadapi berbagai kendala tersebut, PBB dan mitra-mitra kemanusiaannya terus menyalurkan bantuan penyelamat nyawa ke seluruh penjuru negeri," tulis OCHA.
Sejak 2 Maret, Program Pangan Dunia (WFP) telah mendistribusikan lebih dari 11 juta makanan. Sementara itu, Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) telah menyediakan lebih dari 170.000 selimut dan 130.000 kasur bagi keluarga yang mengungsi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow