Israel Pertimbangkan Penarikan Pasukan Terbatas dari Lebanon Selatan

Smallest Font
Largest Font

Israel tengah mempertimbangkan penarikan pasukan secara terbatas dari wilayah pendudukan di Lebanon selatan untuk memprioritaskan jalur diplomasi. Langkah ini dirancang guna memisahkan urusan Lebanon dari perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss.

Seorang sumber Israel yang mengetahui masalah tersebut menyatakan bahwa penarikan ini merupakan bentuk gestur bagi pemerintah Lebanon. Penarikan terbatas tersebut akan memindahkan sebagian pasukan dari area kecil di sepanjang Garis Kuning yang menandai batas wilayah militer Israel pasca-gencatan senjata April lalu.

Namun, ketegangan masih membayangi karena Menteri Pertahanan Israel Israel Katz membantah militer akan mundur dari Kastil Beaufort. Pihak Israel menegaskan tidak akan mundur dari zona keamanan di Lebanon selatan, meski Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir dan Komandan Angkatan Bersenjata Lebanon Jenderal Rodolphe Haykal telah mengunjungi wilayah tersebut secara terpisah.

Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump sempat membuat perundingan AS-Iran mandek setelah melontarkan ancaman keras terhadap delegasi Teheran dalam wawancara dengan Fox News.

"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut biaya masuk," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ancaman tersebut sempat membuat harga minyak dunia melonjak sebelum akhirnya kedua negara menyepakati saluran komunikasi di Selat Hormuz. Peneliti dari Universitas Columbia, Karen Young, menilai konflik ini telah memberikan tekanan permanen pada industri minyak global yang mendorong diversifikasi energi.

"Saya tidak berpikir kemajuan dalam teknologi hijau akan dapat dipulihkan," ujar Karen Young, peneliti di Universitas Columbia.

Young menambahkan bahwa banyak negara kini beralih ke sumber daya mandiri demi menjaga ketahanan energi mereka.

"Ini tentang ... tidak bergantung pada satu sumber saja, tentu saja untuk minyak, tetapi untuk semua jenis bahan bakar energi," kata Karen Young, peneliti di Universitas Columbia.

Meskipun aktivitas tanker di Selat Hormuz mulai membaik, situasi pasar global diprediksi tetap tidak menentu.

"Kita harus memperkirakan periode volatilitas dan itu semua tergantung pada gencatan senjata yang berlaku," kata Karen Young, peneliti di Universitas Columbia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed