Pemerintah Muhammadiyah dan NU Tetapkan Jadwal Puasa Muharram 2026

Smallest Font
Largest Font

Umat Islam di Indonesia bersiap menjalankan ibadah sunnah bulan Muharram setelah Pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama menetapkan jadwal puasa Tasua dan Asyura 2026 secara resmi pada Senin (22/6/2026). Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah menyebabkan adanya selisih pelaksanaan selama satu hari di antara organisasi tersebut.

Kementerian Agama RI menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 melalui Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026. Berdasarkan ketetapan tersebut, jadwal puasa Tasua (9 Muharram) jatuh pada Rabu, 24 Juni 2026, sedangkan puasa Asyura (10 Muharram) jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026. Penentuan ini menggunakan metode rukyat dan hisab yang diputuskan melalui sidang isbat dengan mempertimbangkan hasil pengamatan hilal dari berbagai wilayah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal Muharram 1448 H pada hari yang sama dengan pemerintah, yaitu Selasa, 16 Juni 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal melalui sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kesamaan awal bulan tersebut membuat jadwal puasa Tasua versi Muhammadiyah jatuh pada Rabu, 24 Juni 2026 dan puasa Asyura pada Kamis, 25 Juni 2026.

Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Falakiyah menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil karena hilal awal Muharram tidak terlihat saat pengamatan langsung atau rukyatul hilal. Akibat pergeseran satu hari ini, NU menetapkan puasa Tasua dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026 dan puasa Asyura pada Jumat, 26 Juni 2026.

Majelis Ulama Indonesia melalui situs resminya menjelaskan bahwa ibadah puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar. Berdasarkan penjelasan tersebut, Rasulullah SAW menyebut ibadah sunnah ini sebagai puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan.

"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram." ujar Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim.

Imam as-Shan'ani dalam kitab At-Tanwir Syarh al-Jami' as-Shagir memaparkan bahwa keutamaan tersebut berkaitan dengan kedudukan Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah. Nabi Muhammad SAW juga memperbanyak puasa pada bulan ini sebagai bagian dari mengawali tahun dengan amal kebaikan.

Meskipun tidak ada ketentuan jumlah hari untuk berpuasa, para ulama menyebut sepuluh hari pertama Muharram sebagai waktu yang paling utama untuk memperbanyak amalan. Setiap umat Islam yang ingin melaksanakan ibadah ini diwajibkan membaca niat pada malam hari atau sebelum menjalankan ibadah.

"Nawaidtu shaumal Muharrami lillahi ta'ala." bunyi bacaan niat puasa Muharram.

Niat tersebut memiliki arti, "Saya niat puasa Muharram karena Allah Ta'ala." Menurut Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif, memperbanyak ibadah puasa pada bulan ini menjadi salah satu cara membuka tahun baru Hijriah dengan amal kebaikan.

"Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Muharram, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang setara dengan berpuasa selama tiga puluh hari." sebut hadis riwayat At-Thabrani yang dikutip dari mui.or.id.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed