Karhutla Kalimantan dan Bencana Alam Uji Empati Pemerintah
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan melonjak pada Agustus 2026 akibat kerusakan bentang alam dan pengeringan lahan gambut, di tengah rangkaian bencana alam nasional dan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sistem pemantauan satelit NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) mencatat lonjakan hotspot yang signifikan di lima provinsi Kalimantan. Instrumen satelit MODIS mendeteksi 5.206 piksel anomali panas pada 18 Agustus 2026, yang mencakup area pengamatan seluas 520.600 hektare.
Data instrumen VIIRS dengan tingkat presisi lebih tinggi mencatat akumulasi deteksi anomali panas selama 1–18 Agustus 2026 yang secara representatif mencakup area sekitar 2,24 juta hektare. Kalimantan Barat mencatat angka akumulasi tertinggi sebanyak 82.728 piksel, disusul Kalimantan Tengah 34.105 piksel, Kalimantan Timur 20.686 piksel, Kalimantan Selatan 16.602 piksel, dan Kalimantan Utara 5.157 piksel.
Sepanjang Juli 2026 saja, pemerintah melaporkan hampir 95 ribu hektare lahan telah terbakar. Sementara itu, total area terbakar sepanjang tahun 2026 menurut data media internasional telah mencapai sekitar 285 ribu hektare.
Lonjakan titik api ini diperparah oleh fenomena El Niño yang menguat, meski faktor utama kerentanan bentang alam terletak pada hilangnya fungsi penyimpan air akibat drainase kanalisasi di 4,5 juta hektare tanah gambut Kalimantan. Keberadaan kanal drainase tercatat meningkatkan risiko kebakaran hingga 4,5 kali lebih tinggi, sedangkan riset npj Natural Hazards menunjukkan El Niño meningkatkan risiko kebakaran besar di Kalimantan hingga 2,7 kali lipat.
Bencana karhutla ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi magnitudo 7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026. Gempa tersebut menewaskan puluhan jiwa, merusak fasilitas publik, serta memutus akses logistik, air bersih, dan listrik bagi para penyintas.
Kajian Nature Communications memperkirakan langkah restorasi terhadap 2,49 juta hektare lahan gambut yang terdegradasi melalui penyekatan kanal dan pemulihan vegetasi mampu menghemat potensi kerugian ekonomi akibat karhutla hingga US$8,4 miliar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow