Kelurahan Gempolsari dan Sukamiskin Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Kelurahan Gempolsari dan Sukamiskin di Kota Bandung membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan pendekatan inovatif mulai dari pemilahan sampah di rumah hingga pengolahan dan pemanfaatan limbah secara sirkular.
Program Gempolin di Gempolsari mengintegrasikan edukasi pemilahan sampah dan aplikasi digital yang memungkinkan warga mencatat jenis dan volume sampah serta menentukan titik pengumpulan untuk penjemputan sistematis oleh petugas kebersihan kelurahan.
Hesti, warga RT 04 RW 04 Gempolsari, mengungkapkan bahwa program ini memudahkan warga yang baru mampu memilah sampah.
"Alhamdulillah sih terbantu sekali. Soalnya warga sini baru bisa memilah, belum bisa mengolah. Jadi dengan adanya Gempolin ini terbantu sekali," ujar Hesti.
Warga lain, Iim dari RT 09 RW 10, menyatakan sosialisasi pemilahan dilakukan bertahap karena belum semua warga terbiasa memisahkan sampah organik dan nonorganik.
"Karena warga itu tidak semua memilah. Jadi, secara bertahap mereka dari kelurahan terus mensosialisasikan bahwa sampah itu harus dipilah menurut jenisnya, organik dan non-organik," kata Iim.
Aplikasi Gempolin juga membantu penataan alur kerja petugas kebersihan, dengan data jenis dan volume sampah yang dapat dipantau secara transparan.
"Buat menertibkan aja sih kayaknya gitu, menertibkan berapa banyak sampah yang sudah diolah, terus berapa banyak mungkin volume yang bisa diolah sama tim Gober dari Kelurahan Gempolsari," ujar Yuliah, warga RT 08 RW 10.
Sampah organik dari warga selanjutnya diolah di Buruan Sae Mekarwangi RW 04 menjadi kompos yang digunakan menyuburkan kebun sayuran dan umbi-umbian. Hasil panen dibagikan kepada warga dan dijual untuk mendukung operasional kebun.
Ketua Buruan Sae Mekarwangi, Deny, menyatakan pupuk kompos ini menyuburkan berbagai komoditas sayuran dan umbi-umbian.
"Pupuk organik hasil olahan sampah warga digunakan untuk menyuburkan aneka komoditas sayuran, mulai dari pakcoy, sawi, terung, cabai, hingga umbi-umbian," ujar Deny.
Di Kelurahan Sukamiskin, pengelolaan sampah juga dilakukan secara bertahap mulai dari pemilahan di rumah hingga pengolahan sampah organik dan nonorganik, termasuk budidaya maggot dan pembuatan briket dari sampah nonorganik.
Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail, menyatakan sekitar 500 rumah tangga telah mendapat edukasi pemilahan sampah, dan separuhnya mulai melakukan pemilahan dan pengolahan mandiri.
"Jadi kita sudah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk pemilahan sampah organik, nonorganik dan residu. Sekitar 500 rumah tangga sudah mendapatkan sosialisasi, dan sekitar 250 rumah tangga sudah mulai memilah dan mengolah," ujar Sofian.
Sofian juga menjelaskan kapasitas pengolahan maggot mencapai 400-500 kilogram per hari dengan target satu ton, dan fasilitas briket yang mampu mengolah sampah nonorganik hingga enam ton per hari.
"Setelah kering, sampah digiling. Ada mesin penggiling kasar, penggiling halus, kemudian dicampur dengan kanji supaya ketika dicetak bisa menyatu dan tidak mudah pecah," jelas Sofian.
Kelurahan ini juga disiapkan sebagai laboratorium pengelolaan sampah untuk komunitas dan daerah lain yang ingin belajar dan meniru sistem pengelolaan sampah Sukamiskin.
Pengelolaan sampah yang dilakukan kedua kelurahan ini menunjukkan integrasi inovasi digital, edukasi perilaku, dan pemanfaatan sampah menjadi gerakan sirkular yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow