Kemenag Meluncurkan Gerakan Indonesia Berkiblat pada 15-16 Juli 2026
Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan gerakan nasional bernama Indonesia Berkiblat untuk mengajak masyarakat melakukan verifikasi arah kiblat secara massal dan mandiri pada Rabu dan Kamis, 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
Gerakan nasional ini memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Kiblat atau Istiwa A'zam, yakni kondisi ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka'bah. Pihak Kementerian Agama melalui Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah menjelaskan bahwa program tersebut menargetkan partisipasi di 1.448.000 lokasi yang mencakup masjid, musala, sekolah, madrasah, perkantoran, hingga rumah tinggal.
Sebagai bagian dari rangkaian menyambut Peaceful Muharram 1448 H, Kemenag membuka pendaftaran titik lokasi secara gratis melalui tautan resmi indonesiaberkiblat.kemenag.dev guna memantau partisipasi masyarakat. Berbagai wilayah di Indonesia turut merespons gerakan ini dengan mengadakan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) kepada aparatur keagamaan dan masyarakat luas.
Di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Kantor Wilayah Kemenag setempat mengadakan Bimtek Rashdul Kiblat untuk aparatur sipil negara, petugas KUA, hingga kepala madrasah. Kepala Kemenag Rejang Lebong Rahman Umar menyatakan bahwa pemahaman arah kiblat yang benar sangat penting dalam mendukung kualitas pelayanan keagamaan.
"Pelaksanaan Bimtek Rashdul Kiblat ini merupakan program Dirjen Bimas Islam Kemenag RI sebelum pelaksanaan Rashdul Kiblat secara nasional yang akan dilaksanakan tanggal 15–16 Juli," kata Rahman Umar, Kepala Kemenag Rejang Lebong.
Rahman Umar menambahkan bahwa di Provinsi Bengkulu nantinya akan terdapat sekitar 30 ribu titik pelaksanaan Rashdul Kiblat secara serentak.
"Di Provinsi Bengkulu nantinya terdapat sekitar 30 ribu titik pelaksanaan Rashdul Kiblat. Ini merupakan fenomena langka karena pada saat itu posisi matahari tepat berada di atas Kabah, sehingga menjadi momentum terbaik untuk memastikan kembali akurasi arah kiblat," katanya.
Teknis verifikasi arah kiblat ini dinilai sangat sederhana karena memanfaatkan bayangan benda yang berdiri tegak lurus di bawah sinar matahari langsung pada permukaan yang rata. Jam yang digunakan juga disarankan untuk disesuaikan dengan waktu resmi BMKG.
Dosen Ilmu Falak IAIN Curup Kabupaten Rejang Lebong Ridho Kimura menjelaskan bahwa metode ini terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Mei dan Juli, serta memiliki tingkat akurasi yang tinggi tanpa memerlukan alat canggih seperti kompas.
"Untuk tahun 2026 ini, fenomena Rashdul Kiblat pada periode Juli dapat diamati pada 15–16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB," kata Ridho Kimura, Dosen Ilmu Falak IAIN Curup.
Masyarakat cukup menandai ujung bayangan tongkat lurus atau benang berbandul yang tegak lurus pada jam yang telah ditentukan tersebut.
"Tepat pada pukul 16.27 WIB, ujung bayangan tongkat diberi tanda. Selanjutnya, tarik garis lurus dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat. Garis itulah yang menunjukkan arah kiblat secara akurat," ujar Ridho Kimura.
Langkah serupa juga digerakkan di wilayah Jawa Timur oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Blitar Moh. Rosyad yang mengajak para guru dan pengawas pendidikan Islam serta masyarakat luas untuk mengecek ulang arah kiblat tempat ibadah di sekitarnya. Metode tradisional ini dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal astronomi Islam yang relevan di era digital.
"Metode Rashdul Kiblat tetap relevan sampai sekarang meskipun hidup di zaman teknologi digital. Ini adalah cara tradisional yang sangat praktis, sederhana, murah, mudah dan akurat untuk mengecek ulang arah kibkat. Saat matahari berada tepat di atas Ka'bah, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kibkat secara langsung tanpa mengunakan alat canggih, namun bisa dilakukan hanya cukup dengan tongkat dan sinar matahari," kata Moh. Rosyad, Kasi PAIS Kankemenag Kabupaten Blitar.
Moh. Rosyad menilai fenomena tahunan ini juga dapat diaplikasikan di sekolah sebagai metode pembelajaran lapangan yang menarik bagi para murid.
"Pada zaman sekarang ini Rasdul Kiblat bisa menjadi cara yang menarik untuk mengenalkan astronomi islam (ilmu falah) kepada murid di sekolah, dengan mengadakan kegiatan praktek lapangan, siwa diajak mengamati bayangan matahari, mencatat waktu terjadinya, mencocokkan arah kiblat, lalu membuat laporan ilmiyah secara sederhana. Dengan cara ini murid bisa belajar teori agama (nazhariyyat ad-Din ) serta mempraktekkanya, dengan demikian siswa mengalami secara langsung proses ilmiah," lanjut Moh. Rosyad.
Sementara itu, sosialisasi mengenai fenomena astronomi ini juga dipadukan dalam kegiatan keagamaan di Yogyakarta. KUA Jetis mengintegrasikan sosialisasi Rashdul Kiblat dalam program spiritual 'Sinar Kusuma' yang bertempat di Masjid Cokrokusuman pada Jumat, 10 Juli 2026.
Penyuluh Agama KUA Jetis Ismiyati membawakan tausiyah bertema tiga inti kenikmatan dunia sebelum memberikan pemahaman praktis mengenai kalibrasi arah kiblat.
"Jika seseorang merasakan aman di rumahnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari ini, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seluruhnya," tutur Ismiyati, Penyuluh Agama KUA Jetis.
Ismiyati mengingatkan jamaah agar menggunakan momentum astronomis ini dengan baik untuk memverifikasi arah tempat salat mereka.
"Momentum rashdul kiblat pada tanggal 15 and 16 Juli 2026 pukul 16.27 Wib nantinya menjadi kesempatan bagi kita untuk meluruskan arah kiblat, baik di masjid maupun di rumah, dengan cara yang sederhana namun sangat tepat," tambahnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow