Kemenlu AS Pecat Ratusan Diplomat di Tengah Kekosongan Dubes
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memecat hampir 250 pejabat dinas luar negeri dan membiarkan lebih dari 100 posisi duta besar di Timur Tengah kosong pada Mei 2026 di tengah krisis kebijakan luar negeri global yang terus meningkat.
Langkah pengurangan tenaga kerja yang dimulai sejak Juli lalu tersebut juga berdampak pada pemecatan lebih dari 1.000 pejabat pegawai negeri sipil. Kebijakan ini memicu kekhawatiran dari sejumlah mantan pejabat terkait melemahnya pengaruh diplomatik Washington di kawasan Timur Tengah, seperti di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan Kuwait.
Pihak Kementerian Luar Negeri AS menegaskan bahwa reorganisasi ini bertujuan untuk menghapus posisi yang tumpang tindih dan memangkas birokrasi yang tidak perlu. Pemangkasan ini mencakup penghapusan seluruh Biro Sumber Daya Energi, termasuk Kantor Diplomasi Energi untuk Timur Tengah dan Asia yang dipimpin oleh Erik Holmgren.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigott, membantah keras tuduhan adanya pengosongan institusi secara sistematis di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
"Your reduction in force separation will be effective today," tulis sebagian isi email pemecatan dari Kementerian Luar Negeri AS kepada para diplomat yang dilansir oleh CNN.
"Thank you again for your service to the Department." lanjut petikan email resmi tersebut.
Mantan duta besar karier, John Bass, menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan perombakan massal personel diplomatik senior ini.
"I think historians will look back on this period as one of the great unforced errors that the United States imposes on itself," kata John Bass kepada CNN.
Di sisi lain, Tommy Pigott menegaskan bahwa restrukturisasi internal ini justru membawa dampak positif bagi efisiensi kerja organisasi secara keseluruhan.
"false," ujar Tommy Pigott merespons tudingan bahwa lembaga tersebut sedang dilemahkan secara sengaja.
Kementerian Luar Negeri AS mengklaim bahwa hilangnya ratusan diplomat berpengalaman tidak akan mengganggu pencapaian prioritas negara.
"baseless." ucap Tommy Pigott mengenai klaim dampak negatif pemecatan tersebut.
Ia menambahkan bahwa restrukturisasi ini justru memperkuat korps diplomatik di lapangan.
"Our reorganization eliminated redundant positions, streamlined efforts by reducing unnecessary bureaucracy, and empowered our diplomatic corps," tutur Tommy Pigott menjelaskan perombakan tersebut.
Menurutnya, kementerian kini mampu bertindak lebih taktis dalam merespons dinamika operasional global.
"The RIF’s are not having any negative impact on our ability to respond to operations, our ability to plan, and our ability to execute in service to Americans." jelas Tommy Pigott mengenai dampak pemecatan.
Pihak kementerian juga mengklaim koordinasi pelepasan cadangan strategis bersama sekutu tetap berjalan baik pasca-serangan Iran.
"In fact, we have been able to respond quicker and more effectively, which was the entire point of the reorg - to empower personnel in the field while allowing us to move at the ‘speed of relevancy,’" klaim Tommy Pigott.
Sementara itu, mantan Direktur Kantor Diplomasi Energi, Erik Holmgren, menyatakan bahwa timnya sebenarnya memiliki peran krusial dalam memperlemah rezim Iran melalui pembatasan pengiriman minyak mentah.
"trying to make it a lot harder for Iran to deliver crude" ungkap Erik Holmgren mengenai fokus kerja kantornya.
Ia menambahkan bahwa timnya berupaya memitigasi risiko di Selat Hormuz yang kini memicu kenaikan harga bahan bakar dunia.
"using all the policy tools we could to try to help deal with Iran and weaken the regime." kata Erik Holmgren kepada CNN.
Kantor Holmgren sebelumnya juga menangani diversifikasi pasokan energi untuk Irak termasuk mengelola kontrak perusahaan AS senilai 12 miliar dolar.
"chokepoint in Hormuz." sebut Erik Holmgren mengenai titik rawan maritim tersebut.
Di sisi lain, juru bicara menegaskan tim kebijakan energi saat ini bekerja jauh lebih optimal di bawah Biro Urusan Ekonomi, Energi, dan Bisnis.
"energy policy teams are performing better than ever," klaim Tommy Pigott kepada CNN.
Terkait kekosongan duta besar, mantan utusan Iran Elliot Abrams menyebut keputusan pemerintahan Donald Trump membiarkan posisi penting tersebut tidak terisi sebagai kesalahan besar yang merugikan diplomasi AS.
"It’s a foolish and damaging failure by the Trump administration, and there’s no excuse for it" tegas Elliott Abrams kepada Jewish Insider.
Abrams menyatakan para duta besar memiliki akses komunikasi khusus ke keluarga kerajaan di Timur Tengah yang tidak dimiliki oleh diplomat junior.
"There are top career diplomats, such as the ones the administration has sent to Jordan, Bahrain and Oman, who could be sent, and surely there are potential political appointees who’d love to be in Riyadh or Abu Dhabi." tutur Elliott Abrams.
Ia menyayangkan kelambatan proses konfirmasi Senat dan keputusan penarikan mundur sekitar 30 duta besar karier pada Desember lalu.
"There’s simply no excuse for this, and no other country leaves such important posts vacant," tambah Elliott Abrams.
Pakar Timur Tengah Aaron David Miller menilai pengosongan ini menunjukkan bahwa penilaian analisis situasi riil dari lapangan tidak tersampaikan dengan baik kepada presiden.
"it would be better if they were filled with people." papar Aaron David Miller menekankan pentingnya pengisian jabatan tersebut.
Miller menyebut rantai keputusan luar negeri AS kini lebih banyak didominasi oleh lingkaran dalam Trump seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff.
"more than a 'narrow issue,' but rather a 'reflection of a broader trend'" kata Aaron David Miller mengenai fenomena tersebut.
Ia melihat ada pergeseran prioritas kepemimpinan dalam memandang fungsi diplomasi formal.
"It’s a lack of priority in diplomacy, and in diplomats," nilai Aaron David Miller.
Miller berpendapat bahwa masukan dari para diplomat karier saat ini tidak terlalu dipertimbangkan oleh jajaran administrasi Gedung Putih.
"It reflects a situation where the analytical assessments of how these countries would behave in response to a crisis like the war, what I call the ‘ground truth,’ is not getting to the president because there’s no one out there doing it." beber Aaron David Miller.
Menurutnya, tim politik kepresidenan memegang kendali yang jauh lebih besar dibandingkan Kementerian Luar Negeri itu sendiri.
"I think this reflects the fact that this administration does not rely on the advice and counsel of probably most of its ambassadors," ucap Aaron David Miller.
Kendati demikian, Miller mengakui pengisian pos duta besar mungkin tidak akan mengubah arah kebijakan politik luar negeri Trump secara drastis.
"So does this surprise me? No, because part of the issue is that the White House and the president’s political team, including Jared Kushner and [White House Special Envoy] Steve Witkoff, seem to have more say and more influence than a Department of State led by Marco Rubio." aku Aaron David Miller.
Mantan Duta Besar AS untuk Israel Dan Shapiro memperingatkan keterbatasan koordinasi jarak jauh via telepon yang biasa dilakukan pejabat Washington dengan para pemimpin Arab.
"Senior Trump administration figures may believe they can manage these relationships just fine over the phone from Washington because of their close ties with Arab officials. But there are gaps and bandwidth limits that they cannot always overcome," urai Dan Shapiro.
Menurut Shapiro, duta besar resmi yang disetujui Senat memiliki tingkat aksesibilitas dan pemahaman dinamika lokal yang jauh lebih tinggi.
"Senate-confirmed ambassadors are the only senior U.S. officials who spend all day, every day in dialogue with foreign leaders. So they simply have greater access to key players in their host governments, knowledge of how they reach decisions, and ability to ensure they hear the views of the United States than do more junior diplomats," tambah Dan Shapiro.
Kondisi ini diperparah oleh pengurangan anggaran dan hilangnya puluhan staf senior di Biro Urusan Timur Dekat sejak kembalinya Trump ke pemerintahan.
"downsizing" ujar Edmund Fitton-Brown mengenai situasi pengurangan staf tersebut.
Banyak diplomat berpengalaman yang keluar merupakan kandidat kuat untuk memimpin misi diplomatik penting.
"budget cuts and lost over 80 staff since President Trump returned to office." ungkap Edmund Fitton-Brown.
Namun, mantan utusan Timur Tengah Jason Greenblatt menilai hubungan langsung yang kuat antara Trump dan para pemimpin lokal mampu menutupi kekosongan duta besar tersebut.
"Many of those departing were senior, experienced diplomats who would have been candidates for Chief of Mission posts that were not offered to political appointees," urai Edmund Fitton-Brown.
Greenblatt meyakini kementerian tidak berada dalam posisi yang dirugikan berkat tim internal yang solid.
"play an important role," aku Jason Greenblatt terkait eksistensi duta besar.
Tokoh seperti Steve Witkoff, Marco Rubio, dan JD Vance dinilai memiliki kepercayaan penuh langsung dari Presiden Trump.
"not believe the administration is at any disadvantage … because of these vacancies." tegas Jason Greenblatt kepada Jewish Insider.
Hubungan personal yang tepercaya ini dianggap lebih taktis dalam konstelasi politik Timur Tengah saat ini.
"The leadership and senior diplomats in those countries have strong and trusted relationships with President Trump and with the group doing much of the day-to-day work, including Steve Witkoff, Secretary Rubio, Vice President Vance and Jared Kushner." jabar Jason Greenblatt.
Mantan Kepala Staf Dewan Keamanan Nasional Alexander Gray turut meminimalkan kekhawatiran publik dan menganggap pengisian jabatan luar negeri sebagai salah satu prioritas yang terus berjalan.
"Just as important, that group has President Trump’s deep trust and direct access to him. In this region, those trusted relationships, direct lines of communication and confidence from the president are more valuable than having an ambassador in place." pungkas Jason Greenblatt.
"one of the" sebut Alexander Gray menutup tanggapannya mengenai pengisian pos jabatan diplomatik tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow