Kementerian PU Pastikan Alur Utama Sungai Barito Masih Berair

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Pekerjaan Umum memantau penurunan debit air Sungai Barito di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, akibat kemarau panjang pada pertengahan Agustus 2026. Pemerintah memastikan alur utama sungai sepanjang 100 meter masih berair dan dapat dilalui kapal.

Fenomena penyusutan air ini viral di media sosial setelah beredar video dari atas Jembatan Kalahien yang memperlihatkan gundukan pasir di tengah sungai. Kendati demikian, Kementerian PU menegaskan kekeringan tidak terjadi pada seluruh badan sungai.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan bahwa langkah cepat disiapkan pemerintah untuk mengatasi dampak kekeringan bagi masyarakat setempat.

"Air merupakan pondasi penting bagi kehidupan dan pembangunan. Karena itu, ketika terjadi kekeringan, pemerintah harus bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat lebih tangguh menghadapi kekeringan," kata Menteri PU Dody Hanggodo.

Penyusutan air di sekitar wilayah Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, menyebabkan munculnya gosong atau hamparan pasir luas. Kondisi ini membuat sudut pengambilan gambar dari atas jembatan memberi kesan seolah sungai mengering total.

Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan bahwa pemantauan langsung mengonfirmasi alur utama masih berfungsi sebagai jalur transportasi air.

"Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai," kata Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto.

Penurunan muka air yang dipicu musim kemarau atau El Nino tersebut juga mengganggu aktivitas nelayan dan konektivitas antardesa sejak awal Agustus. Nelayan lokal mencatat penurunan hasil tangkapan akibat mengeringnya sejumlah ceruk sungai.

Hartadi, seorang nelayan Sungai Barito, mengeluhkan dampak kekeringan terhadap mata pencaharian dan akses mobilitas warga.

"Selama musim kemarau, aktivitas mencari ikan cukup terganggu. Kekeringan ini berdampak langsung pada hasil tangkapan kami, sehingga jumlah ikan yang kami dapatkan berkurang drastis," ujar nelayan Sungai Barito Hartadi.

Kendala akses logistik dan transportasi desa juga dirasakan warga di sepanjang aliran sungai.

"Akses menuju desa-desa juga terhambat karena sungai telah mengering," lanjut Hartadi.

BWS Kalimantan III terus memperbarui pemantauan muka air di Wilayah Sungai Barito guna mengantisipasi dampak lanjutan kemarau terhadap lalu lintas perairan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed